Selasa, 05 Juni 2012

Makalah Pengendalian Erosi secara vegetatif


PENDAHULUAN
Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan pada suatu tempat lain. Pengangkutan atau pemindahan tanah tersebut terjadi oleh media alami yaitu antara lain air atau angin. Erosi oleh angin disebabkan oleh kekuatan angin, sedangkan erosi oleh air ditimbulkan oleh kekuatan air.
Kekuatan perusak air yang mengalir di atas permukaan tanah akan semakin besar dengan semakin panjangnya lereng permukaan tanah. Tumbuhan-tumbuhan yang hidup di atas permukaan tanah dapat memperbaiki kemampuan tanah menyerap air dan memperkecil kekuatan butir-butir perusak hujan yang jatuh, serta daya dispersi dan angkutan aliran air di atas permukaan tanah. Perlakuan atau tindakan-tindakan yang diberikan manusia terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan di atasnya akan menentukan kualitas lahan tersebut.
Berbagai langkah konservasi lahan kritis telah dilakukan pemerintah antara lain dengan reboisasi dan penghijauan. Tetapi keberhasilan program reboisasi baru sekitar 68% sedangkan penghijauan hanya 21%. Hal ini terjadi karena tiga kemungkinan yaitu kurang tepatnya teknologi yang diterapkan, kondisi lahan kurang dipelajari secara cermat dan tidak diterapkannya teknologi secara sepenuhnya.
Paradigma pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi telah memacu pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan sehingga eksploitasi sumberdaya alam semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan manusia. Akibatnya sumberdaya alam semakin langka dan menurun baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pemanfaatan sumberdaya secara berlebihan telah menyebabkan kondisi tanah menjadi kritis (rusak).
Data pusat penelitian tanah dan agroklimat menyebutkan pada tahun 2005 terdapat lahan kritis yang mencapai luasan 52,5 hektar. Lahan kritis sebagian besar terdapat di hulu DAS yang bentuk wilayahnya berbukit dengan curah hujan sangat tinggi sehingga dalam pemanfaatannya harus berhati-hati karena dengan kondisi seperti itu dapat memicu erosi yang berakibat pada degradasi lahan. Lahan kering umumnya menjadikan air sebagai faktor pembatas yang utama dalam pengelolaannya, oleh karena itu ketersediaan air menjadi sesuatu yang sangat penting dalam pengelolaaan lahan kritis.
Untuk dapat menjamin adanya ketersediaan air baik dimusim penghujan dan musim kemarau diperlukan teknologi yang applicable dan hemat biaya karena pada umumnya petani lahan kering hidup dalam garis kemiskinan. Beberapa penelitian konservasi air dan lahan kritis telah dilakukan dan diujicoba untuk dapat memaksimalkan simpanan air hujan dan mengoptimalkan manfaat sumberdaya air terutama pada musim kemarau.
Dari tulisan ini, maka akan diuraikan tentang tanaman atau sisa tanaman yang baik dalam mengendalikan erosi secara vegetative.
.


PEMBAHASAN
Metode vegetatif yaitu metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah, penutupan lahan oleh seresah dan tajuk yang akan mengurangi evaporasi dan dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah sehingga memperbesar jumlah infiltrasidan mencegah terjadinya erosi.
Metode vegetatif juga memiliki manfaat dari segi vegetasi tanaman kehutanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga dapat menambah pendapatan petani.
Aplikasi Metode Vegetatif :
A. Sistem Pertanaman Lorong
Sistem pertanaman lorong adalah suatu sistem dimana tanaman pangan ditanam pada lorong diantara barisan tanaman pagar. Sistem ini sangat bermanfaat dalam mengurangi laju limpasan permukaan dan erosi dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama unsur N untuk tanaman lorong. Teknologi budidaya lorong telah lama dikembangkan dan diperkenalkan sebagai salah satu teknik konservasi lahan kritis untuk pengembangan sistem pertanian berkelanjutan pada lahan kritis/kering di daerah tropika basah namun belum diterapkan secara luas oleh petani.
Pada budidaya lorong konvensional tanaman pertanian ditanam pada lorong-lorong diantara barisan tanaman pagar yang ditanam menurut kontur. Barisan tanaman pagar yang rapat diharapkan dapat menahan aliran permukaan serta erosi yang terjadi pada areal tanaman budidaya, sedangkan akarnya yang dalam dapat menyerap unsur hara dari lapisan tanah yang lebih dalam untuk kemudian dikembalikan ke permukaan melalui pengembalian sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar.
B. Sistem Pertanaman Strip Rumput
Konservasi lahan kritis dengan sistem pertanaman strip rumput hampir sama dengan pertanaman lorong tetapi tanaman pagarnya adalah rumput. Strip rumput dibuat mengikuti kontur dengan lebar strip 0,5 meter atau lebih. Semakin lebar strip semakin efektif mengendalikan erosi. Sistem ini dapat diintegrasikan dengan ternak. Penanaman rumput pakan ternak di dalam jalur strip. Penanaman dilakukan menurut garis kontur dengan letak penanaman dibuat selang seling agar rumput dapat tumbuh baik dan usahakan penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Selain itu tempat jalur rumput sebaiknya di tengah antara barisan tanaman pokok.
C. Tanaman Penutup Tanah
Tanaman ini merupakan tanaman yang ditanam tersendiri atau bersamaan dengan tanaman pokok. Manfaat tanaman penutup antara lain untuk menahan atau mengurangi daya perusak bulir-bulir hujan yang jatuh dan aliran air diatas permukaan tanah, menambah bahan organik tanah (melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh), serta berperan melakukan transpirasi yang mengurangi kandungan air tanah.
Peranan tanaman penutup tanah adalah mengurangi kekuatan disperasi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah sehingga mengurangi erosi.
Penyiangan intensif dapat menyebabkan tergerusnya lapisan atas tanah. Untuk menghindari persaingan antara tanaman penutup tanah dengan tanaman pokok pada konservasi lahan kritis dengan teknik ini dapat dilakukan dengan penyiangan melingkar (ring weeding). Tanaman penutup tanah yang digunakan dan sesuai untuk sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat diantaranya harus mudah diperbanyak (sebaiknya dengan biji), memiliki sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok tetapi memiliki sifat mengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun, toleransi terhadap pemangkasan, resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya, sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah dan tidak memiliki sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti berduri atau sulur yang membelit.
Empat jenis tanaman penutup yang dapat digunakan yaitu :
a.      Tanaman Penutup  Tanah Rendah
Tanaman penutup tanah rendah terdiri dari jenis rumput-rumputan  dan tumbuhan merambat atau menjalar:
·         Dipakai dalam pola pertanaman rapat : Calopogonium muconoides Desv, Centrocema pubescens Benth, Mimosa invisa Mart, Peuraria phaseoloides Benth.
calo-cs.jpg
·         Digunakan dalam pola pertanaman barisan: Eupatorium triplinerve Vahl (daun panahan, godong, prasman, jukut prasman), Salvia occidentalis Schwartz (langon, lagetan, randa nunut), Ageratum mexicanum Sims.
http://bebasbanjir2025.files.wordpress.com/2008/10/eupa-cs.jpg
·         Digunakan untuk penguat teras dan saluran-saluran air: Althenanthera amoena Voss (bayem kremah, kremek), Indigofera endecaphylla jacq (dedekan),  Ageratum conyzoides L (babandotan),  Erechtites valerianifolia  Rasim (sintrong), Borreria latifolia Schum (bulu lutung, gempurwatu),  Oxalis corymbosa DC,  Brachiaria decumbens, Andropogon zizanoides (akar
wangi), Panicum maximum (rumput benggala), Panicum ditachyum (balaba, paitan, Paspalum dilatum (rumput Australia), Pennisetum purpureum (rumput gajah).
alther-cs.jpg
b.      Tanaman Penutup Tanah Sedang (Perdu)
Dipakai dalam pola pertanaman teratur di antara baris tanaman pokok: Clibadium surinamense var asperum baker, Eupatorium pallessens DC (Ki Dayang, Kirinyuh)
cli2.jpg
·         Digunakan dalam pola pertanaman pagar : Lantana camara L (tahi ayam, gajahan, seruni), Crotalaria anagyroides HBK, Tephrosia candida DC, Tepherosia vogelii, Desmodium gyroides DC (kakatua, jalakan), Acacia villosa Wild (lamtoro merah), Sesbania grandiflora PERS (turi), Calliandra calothyrsus Meissn (kaliandra merah), Gliricidia maculata (johar cina, gamal), Flemingia congesta Roxb, Crotalaria striata DC., Clorataria juncea, L. Crotalaria laurifolia Poir (urek-urekan, kacang cepel),  Cajanus cajan Nillst (kacang hiris, kacang sarde)  dan Indigofera arrecta Hooscht.

lan.jpg
·         Penggunaan di luar areal pertanaman utama dan merupakan sumber pupuk hijau dan mulsa,  untuk penghutanan dan perlindungan dinding jurang: Leucaena glauca (L) Benth (pete cina, lamtoro, kemelandingan), Tithonia tagetiflora Desp, Graphtophyllum pictum Gries (daun ungu, handeuleum), Cordyline fruticosa Backer,Eupatorium riparium REG.
leu.jpg
c.       Tanaman Penutup Tanah Tinggi Atau Tanaman Pelindung
·         Digunakan dalam pola teratur di antara baris tanaman utama: Albizia falcata (sengon laut, jeunjing), Grevillea robusta A Cum, Pithecellobium saman benth (pohon hujan), Erythrina sp (dadap), Gliricidia sepium
albi.jpg
  • Dipakai dalam barisan: Leucaena glauca atau Leucaena leucocephala
  • Penggunaan untuk melindungi jurang, tebing atau untuk penghutanan kembali: Albizia falcate dan Leucaena glauca, Albizia procera Benth, Acacia melanoxylon, Acacia mangium, Eucalyptus saligna, Cinchona succirubra, Gigantolochloa apus (bamboo apus), Dendrocalamus asper, Bambusa bambos
albicin1.jpg

d.      Tumbuh-Tumbuhan Bawah (Undergrowth) Alami Pada Perkebunan

Banyak usaha telah dilakukan pada beberapa perkebunan, terutama perkebunan karet, dalam memanfaatkan tumbuh-tumbuhan bawah alami untuk melindungi tanah.

e.       Tumbuhan Yang Tidak Disukai

Banyak tumbuhan  yang termasuk dalam tumbuhan pengganggu atau tidak disukai yang dapat berfungsi sebagai penutup tanah atau pelindung tanah terhadap ancaman erosi. Tumbuh-tumbuhan itu tidak disukai karena sifat-sifatnya yang merugikan tanaman pokok dan sulit diberantas atau dibersihkan  dari lahan usaha pertanian: Imperata cylindrica, Panicum repens (lampuyangan), Leersia hexandra (kalamento), Saccharum spontaneum (gelagah), Anastrophus compressus dan Paspalum compressum (tumput pahit).




D. Mulsa
Mulsa adalah bahan-bahan (sisa panen, plastik dan lain-lain) yang disebar atau digunakan untuk menutup permukaan tanah. Bermanfaat untuk mengurangi penguapan serta melindungi tanah dari pukulan langsung butir-butir air hujan yang akan mengurangi kepadatan tanah. Mulsa dapat berupa sisa tanaman, lembaran plastik dan batu. Mulsa sisa tanaman terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi, batang jagung), pangkasan dari tanaman pagar, daun-daun dan ranting tanaman. Bahan tersebut disebarkan secara merata di atas permukaan tanah setebal 2 s/d 5 cm sehingga permukaan tanah tertutup sempurna.
Pada sistem agribisnis yang intensif dengan jenis tanaman bernilai ekonomis tinggi sering digunakan mulsa plastik untuk mengurangi penguapan air dari tanah, menekan hama penyakit dan gulma. Lembaran plastik dibentangkan di atas permukaan tanah untuk melindungi tanaman. Di pegunungan batu-batu cukup banyak tersedia sehingga bisa digunakan sebagai mulsa untuk tanaman pohon-pohonan. Permukaan tanah ditutup dengan batu yang disusun rapat dengan ukuran batu berkisar antara 2 s/d 10 cm.
Dalam pedoman praktek konservasi tanah dan air lahan kritis BP2TPDAS-IBB ditunjukan peranan yang signifikan dari mulsa terhadap aliran permukaan, infiltrasidan erosi pada lahan dengan kemiringan 5%. Penelitian yang dilakukan oleh Thamrin dan Hanafi (1992) juga menunjukkan bahwa pemberian mulsa seresah tanaman dapat menghemat lengas tanah dari proses penguapan sehingga kebutuhan tanaman akan lengas tanah terutama musim kering dapat terjamin. Selain itu pemberian mulsa seresah juga dapat menghambat pertumbuhan gulma yang mengganggu tanaman sehingga konsumsi air lebih rendah.
E. Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape)
Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape) mengikuti kebutuhan air yang sama sehingga irigasi dapat dikelompokkan sesuai kebutuhan tanaman. Teknik konservasi lahan kritis seperti ini dilakukan dengan cara mengelompokkan tanaman yang memiliki kebutuhan air yang sama dalam satulandscape. Pengelompokkan tanaman tersebut akan memberikan kemudahan dalam melakukan pengaturan air. Air irigasi yang dialirkan hanya diberikan sesuai kebutuhan tanaman sehingga air dapat dihemat.
F. Penyesuaian Jenis Tanaman Dengan Karakteristik Wilayah
Teknik konservasi ini dilakukan dengan cara mengembangkan kemampuan dalam menentukan berbagai tanaman alternatif yang sesuai dengan tingkat kekeringan yang dapat terjadi dimasing-masing daerah. Sebagai contoh tanaman jagung yang hanya membutuhkan air 0,8 kali padi sawah akan tepat jika ditanam sebagai pengganti padi sawah untuk antisipasi kekeringan. Pada daerah hulu DAS yang merupakan daerah yang berkemiringan tinggi penanaman tanaman kehutanan menjadi komoditas utama.
G. Penentuan Pola Tanam Yang Tepat
Baik untuk areal yang datar maupun berlereng penentuan pola tanam disesuaikan dengan kondisi curah hujan setempat untuk mengurangi devisit air pada musim kemarau. Hasil penelitian Gomez (1983) menunjukkan bahwa pada lahan dengan kemiringan 5% dengan pola tanam campuran ketela pohon dan jagung akan dapat menurunkan run off dari 43% menjadi 33% dari curah hujan dibandingkan dengan jagung monokultur. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan besar kebutuhan air tiap jenis vegetasi. Besarnya kebutuhan air beberapa jenis tanaman dapat menjadi acuan dalam membuat pola tanam yang optimal.

PENUTUP
Metode vegetatif yaitu metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. Aplikasi metode vegetative yaitu system pertanaman lorong, sistem pertanaman strip rumput, tanaman penutup tanah, mulsa, pengelompokan tanaman dalam suatu bentang alam (landscape), penyesuaian jenis tanaman dengan karakteristik wilayah, penentuan pola tanam yang tepat. 

Pupuk dan Pemupukan


I.                   PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kesuburan tanah suatu lahan pertanian berbeda-beda, tergantung dari bahan organik yang terkandung di dalam setiap lapisan tanah, topografi, tekstur, struktur, solum dan juga aktifitas mikroorganisme dalam tanah.  Kesuburan tanah ini mempunyai arti yang sangat penting sebab tanah subur adalah tanah yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk dapat menyediakan  unsur hara bagi tanaman dengan jumlah tepat sehingga dapat menghasilkan produksi  optimal.
Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Salah satu jenis pupuk organik adalah kompos Dilihat dari sumber pembuatannya, terdapat dua kelompok besar pupuk: (1) pupuk organik atau pupuk alami (bahasa Inggris: manure) dan (2) pupuk kimia atau pupuk buatan (Ing. fertilizer). Pupuk kimia biasanya lebih "murni" daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. Pupuk organik sukar ditentukan isinya, tergantung dari sumbernya; keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif.
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka perlu untuk melakukan praktikum pupuk dan pemupukan. Sehingga dengan adanya praktikum ini dapat menjadi bahan informasi bagi mahasiswa untuk melakukan apilkasi pemupukan yang baik terhadap kebutuhan tanaman untuk melangsungkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
1.2. Tujuan dan kegunaan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk N, P, K, dan jarak tanam pada pertumbuhan tanaman padi (Oryza sativa.).
Kegunaannya adalah sebagai bahan informasi dan acuan dalam aplikasi dan rekomendasi penggunaan pupuk N, P, K, dan jarak tanam pada  tanaman padi (Oryza sativa.). 
II.                TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Komoditi Padi
Padi (Oryza sativa L) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM ( Badan Litbang, 2008 ).
Klasifikasi ilmiah untuk tanaman padi ialah sebaga berikut :
Kerajaan:
Divisi:
(tidak termasuk)
(tidak termasuk)
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
O. sativa
Padi gogo pada umumnya diusahakan pada lahan kering yang penanamannya dilakukan pada awal musim hujan. Menurut Noor (1996), kebutuhan air padi gogo tergantung pada ketersediaan air hujan atau air tanah tanpa genangan. Padi gogo dibudidayakan di tanah tegalan secara tetap sehingga telah beradaptasi dengan kondisi lahan kering yang biasa mengalami berbagai tekanan (stress) yang disebabkan oleh kekeringan, kekahatan berbagai unsur hara, erosi dan gangguan gulma.
Tanaman padi gogo memerlukan kondisi iklim dan tanah yang sesuai agar pertumbuhan dan produksi optimal. Pertumbuhan optimal padi gogo memerlukan syarat iklim khusus. Faktor iklim yang sangat menentukan adalah curah hujan, karena untuk pertumbuhan dan perkembangannya bergantung pada air dari curah hujan (Basyir et al., 1995). Padi gogo dapat tumbuh dan berproduksi baik pada daerah dengan curah hujan 200 mm per bulan atau lebih dengan distribusi merata selama 4 bulan (Grist, 1975 dalam Suardi, 2002). Suhu yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan padi gogo adalah antara 200 C sampai 310 C serta dapat tumbuh pada ketinggian 0 sampai 1.300 m dpl (IRRI, 1979, dalam Basyir et al., 1995).
Faktor iklim lain yang sangat penting dan menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman padi gogo yaitu radiasi matahari. Semakin tinggi intensitas cahaya matahari yang diserap makin tinggi pula energi yang diterima oleh tanaman untuk melakukan fotosintesis (Prawiranata et al., 1981). Intensitas radiasi matahari di daerah tropis lebih rendah dibandingkan di daerah subtropis. Rendahnya intensitas radiasi matahari mengakibatkan rangsangan menutupnya stomata menjadi lebih cepat dan proses fotosintesis tidak berjalan sempurna, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi gogo terhambat. Faktor ini menyebabkan hasil padi gogo di daerah tropis relatif rendah, karena padi gogo biasanya ditanam pada musim hujan pada saat intensitas radiasi matahari rendah (Gupta dan O’Toole, 1986, dalam Basyir et al., 1995). 
Pelaksanaan pengolahan tanah untuk tanaman padi gogo sama seperti tanaman padi lainnya, hanya saja untuk mendapatkan kesuburan tanah yang maksimum supaya dapat dihisap oleh akar tanaman padi gogo maka pengolahan tanah dilakukan dengan 2 tahap dengan waktu yang tertentu pula. Pengolahan tanah pertama dilakukan pada musim kemarau atau pertama musim hujan sehingga tanah sudah lembab, hal ini memudahkan pengolahan tanah sesuai yang diinginkan (Badan Litbang,2008).
2.2.Tanah
Padi gogo harus dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, sehingga jenis tanah tidak begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil padi gogo. Sedangkan yang lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil adalah sifat fisik, kimia dan biologi tanah atau dengan kata lain kesuburannya. Untuk pertumbuhan tanaman yang baik diperlukan keseimbangan perbandingan penyusun tanah yaitu 45% bagian mineral, 5% bahan organik, 25% bagian air, dan 25% bagian udara, pada lapisan tanah setebal 0 – 30 cm (Perdana, 2012).
Struktur tanah yang cocok untuk tanaman padi gogo ialah struktur tanah yang remah. Tanah yang cocok bervariasi mulai dari yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan air yang tersedia diperlukan cukup banyak. Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada harus < 50%. Keasaman (pH) tanah bervariasi dari 5,5 sampai 8,0. Pada pH tanah yang lebih rendah pada umumnya dijumpai gangguan kekahatan unsur P, keracunan Fe dan Al. sedangkan bila pH lebih besar dari 8,0 dapat mengalami kekahatan Zn (Perdana, 2012).

2.3. Definisi Pupuk
Pupuk digolongkan menjadi dua, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa mahluk hidup yang diolah melalai proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai. Contohnya adalah pupuk kompos dan pupuk kandang. Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa tanaman, dan pupuk kandang berasal dari kotoran ternak. Pupuk organik mempunyai komposisi. (Novizan, 2003).
Kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut rendah. Sesuai dengan namanya, kandungan, kandungan bahan organik pupuk ini termasuk tinggi. Pupuk organik buatan adalah pupuk organik yang dibuat dengan teknologi tinggi sehingga dihasilkan pupuk yang bersifat organik tetapi dengan bentuk fifik dan cara kerja seperti pupuk kimia. Pupuk ini mampu memperbaiki sifat fisik.pupuk ini juga tidak mencemari lingkungan. Karena itu konsep “Organic Farming” yang mengenjurkan pemupukan hanya dengan pupuk organik dan tidak menggunakan pupuk anorganik yang dapat mencemari lingkungan mulai banyak dikembangkan. (Sutedjo, 1991).
Pupuk anorganik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki persentase kandungan hara yang tinggi. Contohnya pupuk anorganik adalah Urea, TSP, dan Gandasil. Jenis pupuk buatan sangat banyak  (Jumin,1994).
Menurut jenis unsur hara yang dikandungnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pada pupuk tunggal, jenis unsur hara yang dikandungnya hanya satu macam. Biasanya berupa unsur hara makro primer, misalnya urea yang hanya mengandung  unsure nitrogen. Pupuk majemuk adalah pupuk ini lebih praktis, karena hanya dengan  satu jenis unsur hara. Penggunaan pupuk ini lebih praktis, karena hanya dengan satu penebaran, beberapa jenis unsur hara dapat diberikan. Contohnya pupuk majemuk antara lain diamonium phosphat yang mengandung unsur nitrogen, Phosphor, dan kalium. (Jumin, 1994).
2.3.1. Pupuk Urea
Pupuk Urea (CO(NH2)2) mengandung 46 % nitrogen (N). karena kandungan N yang tinggi menyebabkan pupuk ini menjadi sangat higroskopis. Urea sangat mudah larut dalam air dan bereaksi cepat, juga mudak menguap dalam bentuk ammonia. Jika di dalam tanah, nitrogen urea berubah menjadi ammonium akan terikat langsung oleh koloid tanah. Bahan dasarnya biasanya berupa gas alam dan merupakan ikatan hasil tambang minyak bumi. Kandungan N total berkisar antara 45-46 %. Dalam proses pembuatan Urea sering terbentuk senyawa biuret yang merupakan racun bagi tanaman kalau terdapat dalam jumlah yang banyak. Agar tidak mengganggu kadar biuret dalam Urea harus kurang 1,5-2,0 %. Kandungan N yang tinggi pada Urea sangat dibutuhkan pada pertumbuhan awal tanaman (Nurhayati , dkk, 1986)
            Manfaat unsure hara nitrogen pada urea membuat bagian tanaman lebih hijau dan segar, mempercepat pertumbuhan dan menambah kandungan protein hasil panen. Gejala kekurangan unsure hara nitrogen pada tanaman yaitu seluruh tanaman berwarna pucat kekuningan, pertumbuhan lamabtdan kerdil, daun tua berwarna kekuningan pada tanaman padi dimulai dari ujung daun menajalar ke tulang daun, pertumbuhan buah tidak sempurna seringkali masak sebelum waktunya, dan jika dalam keadaan kekurangan yag parah daun menjadi kering dimulai dari bagian bawah tanaman terus ke bagian atas tanaman (Nurhayati , dkk, 1986).
            Kelebihan pupuk urea yaitu ketika pupuk urea digunakan sesuai porsi dan diukur melalui metodologi yang tepat, maka ureaakan memberikan hasil produksi yang optimal. Pupuk urea dapat dengan mudah disimpan, diangkut dan ditangani denganaman. Urea tidak berpotensi menimbulkan bahaya ledakan. Komposisi nutrisi / unsur hara nitrogen yang diberikan oleh ureadapat meningkatkan produktivitas tanah dan memperkaya kandungan nutrisinya. Urea juga memberikan unsur-unsurrelevan yang diperlukan tanaman, sehingga urea dapat menopang kehidupan tanaman (Anonimb, 2012).
Pupuk urea juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain : urea dapat menghasilkan polutan berbahaya selama prosesproduksi pada proses produksi yang melibatkan emisi gas polutan di udara. Selain dapat menambah unsur hara nitrogenbagi tanah, pada kondisi tertentu urea dapat mengganggu kestabilan pH di dalam tanah yang mengakibatkan terganggunyakesuburan alami tanah tersebut (Anonimb, 2012)
2.3.2 Pupuk SP36
Pupuk SP36 mengandung 36 phosphor dalam bentuk P2O5. Pupuk ini terbuat dari phosphate alam dan sulfat. Berbentuk butiran dan berwarna abu-abu. Sifatnya agak sulit larut di dalam air dan bereaksi lambat sehingga selalu digunakan sebagai pupuk dasar. Reaksi kimianya tergolong netral, tidak higroskopis, dan tidak bersifat membakar. SP 36 merupakan pupuk fosfat yang berasal dari batuan fosfat yang ditambang. Kandungan unsur haranya dalam bentuk P2O5 SP 36 adalah 46 % yang lebih rendah dari TSP yaitu 36 %. Dalam air jika ditambahkan dengan ammonium sulfat akan menaikkan serapan fosfat oleh tanaman. Namun kekurangannya dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, lamban pemasakan dan produksi tanaman rendah. (Hakim, dkk, 1986).
2.3.3 Pupuk KCl
Pupuk (KCl) mengandung 45 % K2O dan khor, bereaksi agak asam, dan bersifat higrokopis. Khor berpengaruh negative pada tanaman yang tidak membutuhkannya misalnya kentang, wortel, dan tembakau. Pupuk KCl memiliki rumus kimia KCl, kadar K2O 52-55 %, reaksi fisiologis masam lemah, agak higroskopis, hanya digunakan untuk tanaman yang tahan akan Clorida (Anonim,2012).
Pembuatan pupuk KCl melalui proses ekstraksi bahan baku (deposit K) yang kemudian diteruskan dengan pemisahan bahan melalui penyulingan untuk menghasilkan pupuk KCl. Kalium klorida (KCl) merupakan salah satu jenis pupuk kalium yang juga termasuk pupuk tunggal. Kalium satu-satunya kation monovalen yang esensial bagi tanaman. Peran utama kalium ialah sebagai aktivator berbagai enzim. Kandungan utama dari endapan tambang kalsium adalah KCl dan sedikit K2SO4. Hal ini disebabkan karena umumnya tercampur dengan bahan lain seperti kotoran, pupuk ini harus dimurnikan terlebih dahulu. Hasil pemurniannya mengandung K2O sampai 60 %. Pupuk Kalium (KCl) berfungsi mengurangi efek negative dari pupuk N, memperkuat batang tanaman, serta meningkatkan pembentukan hijau dan dan dan karbohidrat pada buah dan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Kekurangan hara kalium menyebabkan tanaman kerdil, lemah (tidak tegak, proses pengangkutan hara pernafasan dan fotosintesis terganggu yang pada akhirnya mengurangi produksi. Kelebihan kalium dapat menyebabkan daun cepat menua sebagai akibat kadar Magnesium daun dapat menurun. Kadang-kadang menjadi tingkat terendah sehingga aktivitas fotosintesa terganggu ( Anonim,2012 ).
2.4 Parameter Pengamatan
Menurut Anonima (2012), parameter pengamatan pertumbuhan tanaman padi, meliputi :
a). Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman padi ( Oryza sativa ) diukur menggunakan mistar yang pengukurannya mulai dari dasar batang tanaman sampai pada ujung daun yang paling panjang.
b). Jumlah Anakan
Menghitung jumlah anakan tanaman setiap minggu sampai pengamatan terakhir.  
2.5 Perlakuan
Pada praktikum kali ini perlakuan yang diberikan adalah “DIII” yaitu jarak tanam ditambah 25% dengan dosis urea dikurangi 50%, KCL standar dan sp-36 standar. Jarak tanam standar padi gogo adalah 20 cm x 20 cm sementara perlakukan yang diberikan ditambah 25% sehingga jarak tanamnya menjadi 25 cm x 25 cm.
           
Menurut Anonima (2012) penentuan dosis pupuk untuk padi gogo dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :
ü  Urea = 300 Kg/ha
Kebutuhan pupuk untuk lahan 2 m x 2 m (4 m2)  :
Kebutuhan pupuk untuk tiap tanaman                  :
Tetapi perlakuan yang diberikan untuk pemupukan Urea dikurangi 50 % maka pemberian pupuk pada tiap tanaman yaitu 0,9375 gram/ tanaman
ü  SP-36 = 200 Kg/ha
Kebutuhan pupuk untuk lahan 2 m x 2 m (4 m2)  :
Kebutuhan pupuk untuk tiap          tanaman                     :
ü  KCL = 150 Kg/ha
Kebutuhan pupuk untuk lahan 2 m x 2 m (4 m2)  :
Kebutuhan pupuk untuk tiap tanaman                  :

III.             METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum pupuk dan pemupukan ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian (Exfarm), Jurusan Ilmu Tanah, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada hari rabu 14 maret - 9 mei 2012, pukul 15.30 WITA.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul, meteran, linggis, ember dan pisau.
Adapun bahan-bahan yang dignakan yaitu benih padi gogo, air, tali rapia, pupuk KCL, pupuk SP36 dan pupuk Urea.
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Persiapan Lahan
Adapun prosedur kerja persiapan lahan dari praktikum ini adalah:
1.)    Pilih lahan yang akan digunakan untuk praktikum.
2.)    Bersihkan lahan dan rumput-rumput kemudian bagi lahan sesuai dengan ukuran yang ditentukan.
3.)    Gemburkan lahan yang akan ditanamami benih dan siram dengan air.
4.)    Lahan siap ditanami benih.



3.3.2 Penanaman Benih
Adapun prosedur kerja penanaman benih dari praktikum ini adalah:
1.)    Sebelum ditanam rendam benih selama 1 hari dalam air.
2.)    Kemudian berikan patokan sesuai dengan jarak tanam yang akan digunakan agar memudahkan dalam menanam benih.
3.)    Tanam benih dengan cara memasukkan dalam lubang sedalam 2 cm sebanyak 3 biji kemudian ditutup dengan tanah.
4.)    Pasangkan tali rapia pada masing-masing lahan untuk membedakan antara lahan satu dengan lainnya.
3.3.3 Pemupukan
Adapun prosedur kerja pemupukan dari praktikum ini adalah:
1.)    Berikan pupuk dasar bersamaan dengan penanaman benih yaitu pupuk KCl dan pupuk SP36.
2.)    Berikan pupuk dengan cara menabur disekitar benih tanaman. Jangan sampai mengenai benih yang ditanam.
3.)    Berikan pemupukan kedua yaitu urea 2 minggu setelah hari tanam, dengan cara menanam dalam lubang sekitar akar tanaman.
4.)    Tutup dengan tanah agar tidak menguap.
3.3.4 Pengukuran
Adapun prosedur kerja pengukuran dari praktikum ini adalah:
1.)    Siapkan alat ukur (penggaris) yang akan digunakan dalam mengukur.
2.)    Siapkan alat tulis menulis.
3.)    Ukur tinggi tanaman dimulai dari batang bawah sampai daun yang paling panjang.
4.)    Ukur jumlah anakan dan jumlah daun dari tanaman. Lakukan pengukuran ini selama 5 minggu.

Sabtu, 19 Mei 2012

KTI tentang tungro


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Tungro merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman padi karena memiliki potensi kerusakan yang tinggi. Penyebaran dapat meluas dengan cepat terutama apabila faktor-faktor pendukung perkembangannya tersedia seperti kepadatan populasi vektor utama wereng hijau (Nephotettix virescens) dan sumber infeksi.
Infeksi penyakit tungro pada tanaman padi dapat terjadi sejak tanaman di persemaian. Pada daerah pertanaman padi yang serentak infeksi penyakit tungro sebagian besar mulai terjadi setelah tanam. Kehilangan hasil padi akibat serangan intensitas serangan. Semakin muda stadia tanaman infeksi, semakin besar kehilangan hasilnya. Kisaran kehilangan hasil pada stadia yang terinfeksi 2-12 minggu setelah tanam (mst) antara 90-20%. Pada intensitas serangan ringan kehilangan hasil diperkirakan mencapai 15%, intensitas serangan sedang mengakibatkan kehilangan hasil lebih kurang 35%, intensitas seranga berat mengakibatkan kehilangan hasil lebih kurang 59%. Apabila kehilangan hasil mencapai 79% ke atas maka daerah serangan dinyatakan sebagai puso.
Serangan penyakit tungro yang cukup luas di Indonesia dilaporkan terjadi pada tahun 1976 yang tersebar di 7 provinsi, namun dewasa ini perkembangan serangan semakin pesat, seranagn telah tersebar di semua provinsi yang meliputi 153 kabupaten. Eksploitasi penyakit tungro telah terjadi beberapa kali antara lain di sumatera selatan tahun 1969-1970, Nusa Tenggara Barat 1980-1981, dan Bali tahun 1980/1981 serta tahun 1983/1984, dengan luas serangan rata-rata lebih dari 2000 hektar. Fluktuasi serangan tungro yang terjadi di masing-masing provinsi endemis sangat bervariasi tergantung kondisi setempat. Peningkatan serangan penyakit tungro terjadi mulai pada bulan Oktober Nopember dengan puncak serangan terjadi antara bulan Februari Maret. Rata-rata luas seranagn tungro 5 tahun terakhir mencapai 12.689 hektar terinfeksi dan diantaranya 638 hektar puso. Perkiraan kehilangan hasil mencapai 11.000 ton gabah setara dengan Rp 20 milyar (Wasiati, 2007 : 2)1.
Penyebaran tungro tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara Asia lainnya seperti India, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Thailand. Berbagai usaha pengendalian telah dilakukan, di antaranya dengan penerapan teknologi pengendalian penyakit tungro secara terpadu yang bertujuan untuk mencegah atau menghindarkan pertanaman dari ancaman tungro (escape strategy) dengan komponen utama waktu tanam tepat, penggunaan varietas tahan, dan pergiliran varietas tahan. Namun demikian, tidak semua komponen dapat diterapkan, waktu tanam tepat kurang sesuai untuk daerah dengan pola tanam tidak serempak, ketersediaan varietas tahan masih terbatas, sehingga tidak mencukupi untuk pewilayahan dan distribusi berdasarkan sifat ketahanan spesifik lokasi.
Penyakit tungro merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus berbentuk bulat dan batang ditularkan oleh serangga wereng hijau dan juga wereng loreng. Oleh karena itu upaya pengendaliannya terutama harus ditujukan kepada eradikasi sumber infeksi dan pengendalian vektornya. Selain itu upaya serangan tungro dengan penanaman varietas tahan, bertanam secara serentak dan budidaya tanaman sehat, dengan pengelolaan tanamana terpadu.
Pengendalian penyakit tungro secara terpadu perlu dilakukan, baik mencakup aspek teknik pengendaliannya maupun gerakan operasionalnya. Kedisiplinan pemerintah dan petugas dalam melakukan penyuluhan dan penyediaan sarana pertanian bagi para petani serta kepedulian kelompok tani, merupakan faktor kunci dalam pengendalian penyakit tungro.

__________________________________________________________________
                1
                Wasiati, Pedoman Pengendalian Penyakit Tungro pada Tanaman Padi  (2007). Hlm.2

1.2  Identifikasi Masalah
Berdasarkan topik pembahasan yang dibicarakan dalam penyusunan makalah ilmiah ini, dapat diidentifikasi masalah-masalah berupa:
1.        bagaimana gejala-gejala tanaman padi yang terserang penyakit tungro?
2.        bagaimana morfologi patogen pada tanaman?
3.        bagaimana siklus penyakit tungro yang menyerang tanaman padi?
4.        faktor-faktor apa yang mempengaruhi tanaman tersebut sehingga terserang penyakit tungro?
5.        bagaimana cara pengendalian penyakit tungro?
1.3  Batasan Masalah
Masalah yang akan dibahas pada penyusunan makalah ilmiah ini hanya terbatas pada bagaimana gejala-gejala tanaman padi yang terserang penyakit tungro dan bagaimana cara pengendalian penyakit tungro tersebut.

1.4  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penyusunan dimulai dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1.        bagaimana gejala-gejala tanaman padi yang terserang penyakit tungro?
2.        bagaimana cara pengendalian penyakit tungro?
1.5  Tujuan
  Penyusunan makalah ini bertujuan untuk:
1.         mengetahui bagaimana gejala-gejala tanaman padi yang terserang penyakit tungro.
2.         mengetahui cara pengendalian penyakit tungro.
1.6  Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penyusunan makalah ilmiah ini adalah sebagai salah satu bahan penilaian dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam sub materi Perencanaan Karya Tulis Ilmiah, dapat dijadikan sebagai salah satu literatur dalam penyusunan makalah ilmiah berikutnya khususnya makalah mengenai penyakit tungro pada tanaman padi , dan dapat dijadikan sebagai salah satu referensi bagi mahasiswa untuk mengetahui penyakit tungro pada tanaman padi.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Gejala Penyakit Tungro
Rumpun tanaman yang sakit tungro memiliki beberapa gejala-gejala yang dapat diketahui secara tepat dengan cara mengamati tanaman tersebut. Hal ini dikemukakan oleh Wasiati, (2007 : 4)2 sebagai berikut.
Gejala penyakit tungro menunjukkan pertumbuhan terhambat, warna daun 
berubah menjadi kuning sampai kuning jingga. Perubahan warna daun bermula dari ujung daun, meluas ke bagian pangkal daun. Pada daun tersebut terlihat bercak-bercak berwarna coklat karat. Kadang-kadang gejala kuning pada tanaman yang masih muda dapat hilang karena bertambahnya umur tanaman sehingga seolah-olah tanaman menjadi sembuh. Apabila diteliti tanaman tersebut masih banyak mengandung virus. Gejala perubahan warna daun tergantung kepada varietas tanaman, umur tanaman pada saat terinfeksi, dan keadaan lingkungan pertumbuhan.
Tanaman yang terinfeksi penyakit tungro pertumbuhannya terhambat dan kerdil. Jumlah anakan berkurang. Masa pembungaan tertunda. Infeksi virus tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, malai pendek sehingga jumlah gabah per malai rendah. Malai yang dihasilkan lebih kecil, tidak dapat keluar dengan sempurna, biasanya bulir mandul (steril). Pada butir terdapat bintik-bintik coklat kehitaman (Wigenasantana, 1989 : 13)3.
Serangan berat terjadi apabila penularan telah berlangsung sejak dipersemaian atau pada tanaman muda yang berumur kurang dari satu bulan. Di lapang serangan terjadi sporadik sehingga pertanaman kelihatan bergelombang (Wigenasantana, 1989 : 13)4.
Tingkat intensitas serangan tungro ditentukan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut merupakan hal yang sangat penting yang harus diketahui para petani. Hal ini dikemukakan oleh Anonim, (2010)5 sebagai berikut.
       Tinggi rendahnya intensitas serangan tungro ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya: ketersediaan sumber inokulum (tanaman terserang), adanya vektor (penular), adanya varietas peka dan kondisi lingkungan yang memungkinkan, namun keberadaan vektor yang mengandung virus adalah faktor terpenting. Intensitas penyakit tungro juga dipengaruhi oleh tingkat ketahanan varietas dan stadia tanaman. Tanaman stadia muda, sumber inokulum tersedia dan populasi vektor tinggi akan menyebabkan tingginya intensitas serangan tungro. Ledakan tungro biasanya terjadi dari sumber infeksi yang berkembang pada pertanaman yang tidak serempak.

__________________________________________________________________
               2
   Wasiati, Pedoman Pengendalian Penyakit Tungro pada Tanaman Padi (Jakarta, 2007) hlm. 4.
   3
   Wigenasantana, Pengenalan Penyakit Penting pada tanaman Padi dan Palawija dan Cara pengendaliannya (Jakarta, 1989) hlm. 13.
   4
   Ibid. hlm. 13.
   5
                Anonim, Penyakit Tungro dan Pengendaliannya  pada Tanaman Padi (2010).
2.2 Cara Pengendalian Penyakit Tungro
Pengendalian penyakit tungro perlu dilakukan karena tanaman yang sudah terserang sangat sulit untuk dikendalikan bahkan tidak bisa lagi “Pada prinsipnya penyakit tungro tidak dapat dikendalikan secara langsung artinya, tanaman yang telah terserang tidak dapat disembuhkan”. (Anonim, 2010)6. Pengendalian bertujuan untuk mencegah dan meluasnya serangan serta menekan populasi wereng hijau yang menularkan penyakit.
Upaya pengendalian harus dilakukan secara terpadu yang meliputi : waktu tanam tepat, tanam serentak dan menanam varietas tahan. Hal ini dikemukan oleh Nursusilawati (2009)7 sebagai berikut.
       Pengendalian penyakit tungro dilakukan dengan mengintegrasikan komponen-komponen pengendalian dalam satu sistem yang dikenal dengan konsep pengendalian penyakit secara terpadu. Usaha tersebut meliputi
a.     Waktu tanam tepat
Waktu tanam harus disesuaikan dengan pola fluktuasi populasi wereng hijau yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu. Waktu tanam diupayakan agar pada saat terjadinya puncak populasi, tanaman sudah memasuki fase generatif (berumur 55 hari atau lebih). Karena serangan yang terjadi setelah masuk fase tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang berarti.
b.    Tanam serentak
Waktu tanam harus disesuaikan dengan pola fluktuasi populasi wereng hijau yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu. Waktu tanam diupayakan agar pada saat terjadinya puncak populasi, tanaman sudah memasuki fase generatif (berumur 55 hari atau lebih). Karena serangan yang terjadi setelah masuk fase tersebut tidak menimbulkan kerusakan yang berarti.
c.     Varietas tahan
Menanam varietas tahan merupakan komponen penting dalam pengendalian penyakit tungro.Varietas tahan artinya mampu mempertahankan diri dari infeksi virus dan atau penularan virus oleh wereng hijau. Walaupun terserang, varietas tahan tidak menunjukkan kerusakan fatal, sehingga dapat menghasilkan secara normal.


__________________________________________________________________  
                6
    Anonim Op,cit
    7
    Nursusilawati, Virus Tungro pada Padi (2009).


BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Gejala penyakit tungro
            Gejala penyakit tungro adalah berkurangnya jumlah anakan dan pertumbuhan yang kerdil. Helaian daun dan pelepah daun memendek. Helaian daun muda yang tidak menggulung dijepit oleh pelepah daun dan daun-daunnya terpuntir atau menggulung sedikit. Warna daun berubah menjadi kuning kemerah-merahan atau oranye mulai dari ujung daun-daun yang tua. Daun muda mungkin menjadi belang atau bergaris-garis hijau pucat. Malai tanaman yang terinfeksi biasanya kecil dan keluar tidak sempurna. Bulir-bulirnya tertutup bercak coklat dan beratnya kurang dibanding bulir normal.
Tanaman padi yang terinfeksi biasanya hidup hingga fase pemasakan. Pembungaan yang terlambat bisa menyebabkan tertundanya panen. Malai seringkali kecil, steril dan keberadaanya tidak sempurna. Tanaman tua yang terinfeksi bisa tidak menimbulkan gejala serangan sebelum panen tetapi gejala akan terlihat saat singgang yang tumbuh setelah panen. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonim (2011)8 bahwa Tungro adalah penyakit virus pada padi yang biasanya terjadi pada fase pertumbuhan vegetatif dan menyebabkan tanaman tumbuh kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terserang berwarna kuning sampai kuning-oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat sampai putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang bila daun yang lebih tua terinfeksi.
3.2 Cara Pengendalian Penyakit Tungro
Pengendalian penyakit tungro dilakukan secara dini dengan menerapkan sistem pengendalian penyakit secara terpadu, yaitu waktu tanam yang tepat, melakukan penanaman secara serentak, menanam varietas yang tahan dari penyakit tungro serta  cara-cara pengendalian yang lain seperti eradikasi sumber infeksi (tanaman sakit, singgang, voluntir dan rumput-rumputan inang), dan pengendalian serangga penular. Hal ini sesuai pendapat Anonim (2011)9 bahwa untuk mengendalikan penyakit tungro perlu dilakukan (1) penggunaan varietas tahan seperti Tukad Unda, Tukad Balian, Tukad Petanu, Bondoyudo, dan Kalimas merupakan cara terbaik untuk mengendalikan tungro. Rotasi varietas penting untuk mengurangi gangguan ketahanan. (2) Cabut dan bakar tanaman yang sakit. Ini perlu dilakukan kecuali bila serangan tungro sudah menyeluruh. Bila serangan sudah tinggi maka mungkin ada tanaman yang terinfeksi tungro tapi kelihatan sehat. Mencabut tanaman yang terinfeksi dapat mengganggu wereng hijau sehingga makin menyebarluaskan infeksi tungro. (3) Waktu Tanam: Tanam padi saat populasi wereng hijau dan tungro rendah. (4) Tanam serempak: Upayakan petani tanam serempak. Ini mengurangi penyebaran tungro dari satu lahan ke lahan lainnya karena stadium tumbuh yang relatif seragam.

__________________________________________________________________   
               8
   Anonim. Tungro. (2011)
   9
   Ibid.

BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang telah dijelaskan tadi maka dapat disimpulkan bahwa gejala-gejala yang terdapat pada penyakit tungro pada tanaman padi yaitu pertumbuhannya kerdil, daun menguning, helai daun dan pelepahnya memendek sehingga menghasilkan malai yang tidak sempurna. Adapun cara pengendaliannya yaitu dengan melakukan penanaman dengan waktu yang tepat, penanaman yang serentak, penanaman varietas yang tahan serta pengendalian-pengendalian yang lain.
4.2. Saran
            Sebaiknya pemahaman dan pengetahuan petani lebih ditingkatkan agar tidak banyak dirugikan oleh penyakit tungro yang merupakan tanaman yang penting pada tanaman padi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Penyakit Tungro dan Pengendaliannya  pada Tanaman Padi   
        2011.
Anonim. 2011. Tungro [Online]. http://www.knowledgebank.irri.org/indonesia/ 
        PDF%20files/tungro_BW.pdf. Diakses tanggal 24 Mei 2011.
Nursusilawati. 2009. Virus Tungro pada Padi http://nursusilawati.blogspot.com 
Wasiati, A. 2007. Pedoman Pengendalian Penyakit Tungro pada Tanaman Padi.
        Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian: Jakarta.
Wigenasantana. 1989. Pengenalan Penyakit Penting pada Tanaman Padi dan   
        Palawija dan Cara Pengendaliannya. Dirjen Pertanian Tanaman Pangan:  
        Jakarta.














LAMPIRAN I
Peta Konsep
Penyakit Tungro pada Tanaman Padi

 




Cara pengendalian penyakit tungro pada tanaman padi
Gejala penyakit tungro pada tanaman padi

                                  
 


Waktu tanam tepat

                  
Tanam serentak

Varietas tahan



















LAMPIRAN II
Kerangka Pikir

Penyakit penting pada tanaman padi

Disebabkan oleh virus tungro

Kehilangan hasil padi

Pengendalian penyakit secara terpadu
















LAMPIRAN III
Kerangka Tulis

Ø  Tema               :  Penyakit pada Tanaman
Ø  Subtema          :  Penyakit pada Penting Tanaman Padi
Ø  Masalah          : - Kurangnya pemahaman petani tentang penyakit penting      
                            ini.
-    Kurangnya pengetahuan petani tentang cara pengendalian penyakit tungro.
Ø  Judul               : Penyakit Tungro pada Tanaman Padi