Selasa, 05 Juni 2012

Perencanaan Tata Ruang Pertanian


I. PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Populasi manusia tidak konstan, bahkan terus berkembang. Hingga tahun 2000-an penduduk Indonesia telah mencapai 200 juta lebih. Pertambahan penduduk tersebut akan meningkatkan kepadatan populasi suatu daerah. Kepadatan populasi adalah hubungan antara jumlah individu dan satuan luas atau volume ruang yang ditempati pada waktu tertentu. Kepadatan populasi pada suatu daerah senantiasa mengalami dari waktu kewaktu. Imigrasi atau individu yang datang dari suatu tempat serta emigrasi atau individu yang pergi ketempat lain adalah dua faktor yang mempengaruhi perubahan kepadatan populasi organisme pada suatu tempat. Apabila luas suatu daerah tetap dan jumlah populasi meningkat, maka akan terjadi kepadatan populasi. Ketersediaan ruang dan makanan yang cukup pada suatu daerah akan mendorong peningkatan jumlah individu dan meningkatkan jumlah populasi.      
Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia mempu menciptakan alat-alat canggih, alat tersebut dapat membantu manusia dalam mengatasi masalah dalam hidupnya. Disisi lain perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menimbulkan dampak yang akhirnya merugikan manusia sendiri serta lingkungan hidup. Dampak tersebut antara lain rusaknya ekosistem dan timbulnya pencemaran lingkungan (pencemaran biologis, pencemaran fisik serta pencemaran kimiawi). Akibat dari pencemaran ini sangat berbahaya, diantaranya hujan asam, pelapisan ozon serta efek rumah kaca/pemanasan global.
Kecamatan Tinggimoncong yang merupakan salah satu kecamatan yang tergabung dalam wilayah administrasi kabupaten Gowa, yang merupakan penyangga utama kota Makassar adalah salah satu daerah yang istimewa dibanding dengan daerah lainnya. Industri hortikultura, industri perkebunan dan industri agrowisata sudah merambah ke daerah ini, khusus di daerah Malino, ibukota kecamatan Tinggimoncong adalah primadona perpariwisataan di Selawesi Selatan. Daerah yang berada diatas ketinggian 1.500 DPL, ini juga pemasok utama tanaman holtikultura ke kota Makassar dan sekitarnya, bahkan hasil dari perkebunan ini sebahagian sudah di ekspor kebeberapa negara di Asia dan Eropa. Keadaan geografisnya di kecamatan Tinggimoncong memang indah dan khas. Kesemuanya ini baik langsung maupun tidak langsung menambah pendapatan penduduk, sehingga penduduk akan sejahtera, disamping itu perpindahan penduduk kedaerah ini menigkat dari tahun ketahun, tapi dibalik itu semua kita juga perlu menyadari akan dampak negatif yang timbul sebagai efek dari geliat ekonomi di daerah ini. Dikarenakan hal tersebut maka penulis memilih kecamatan Tinggimoncong sebagai sampel project mini Desain dan Tata Ruang.


1. 2 Tujuan dan Sasaran
Tujuan penulis membuat Project Mini ini sebagai salah satu tugas wajib bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Desain dan Tata Ruang selain itu agar dapat bermanfaat dan sebagai salah satu pertimbangan lagi bagi para masyarakat dikecamatan Tinggi Moncong untuk lebih mengembangkan lagi potensi-potensi yang terdapat didaerah tersebut, Sasaran Project Mini ini adalah agar dapat diterima dan dipertimbangkan bagi pemerintah daerah setempat untuk memajukan daerahnya yang memiliki potensi besar baik itu dibidang pertanian, peternakan, kehutanan dan lain sebagainya.

II. KEADAAN UMUM LOKASI
2. 1 Administrasi Kependudukan dan Akses Wilayah
2. 1. 1 Letak Administrasi  dan Batas Geografis
            Kecamatan tinggi moncong merupakan salah satu kecamatan yang berada dalam lingkup kabupaten Gowa terletak pada koordinat antara  33’ 6” sampai   34’ 7” Lintang Selatan dan   38’ 6” sampai   33’ 6” Bujur Timur. Kabupaten Gowa terletak di bagian selatan Pulau Sulawesi. Ibukotanya Sungguminasa dengan jarak sekitar 6 km dari ibukota Makassar. Dengan luas wilayah 1.883,33 km atau sama dengan 3,01% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.Wilayah Kabupaten Gowa terbagi dalam 18 Kecamatan dengan jumlah Desa/Kelurahan definitif sebanyak 167 dan 726 Dusun/Lingkungan. Wilayah Kabupaten Gowa sebagian besar berupa dataran tinggi berbukit-bukit, yaitu sekitar 72,26% yang meliputi 9 kecamatan yakni Kecamatan Parangloe, Manuju, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu. Kecamatan tinggi moncong terdiri dari 7 desa yang meliputi Desa Parigi, Desa Bulutana, Desa Bontolerung, Desa Patappang, Kelurahan Malino, Kelurahan Gantarang dan Desa Garassi.
2. 1. 2 Kependudukan
            Penduduk yang tersedia dalam hal kuantitas merupakan potensi yang cukup besar dalam membangun suatu daerah. Kekurangan jumlah penduduk akan mempersulit jalannya suatu proses pembangunan sebab penduduk disamping sebagai obyek pembangunan juga berfungsi sebagai subyek pembangunan. sebagai obyek merupakan faktor yang sangat penting, disamping merupakan uama dalam suatu proses penduduk. Pangkaan kualitas penduduk adalah hal yang mutlak harus dilakukan, sebab penduduk adalah titik sentral faktor produksi lainnya atau sebagai motor penggerak dari faktor-faktor produksi lainnya. Upaya-upaya peningkatan produktivitas penduduk senantiasa dilakukan, dalam pengertian kuantitas penduduk diusahakan untuk dibina, diterampilkan agar bisa berproduksi atau mendatangkan manfaat Yang tentu dengan sendirinya akan menghasilkan kesejahteraan pembangunan.
Pembangunan kependudukan dilaksanakan dengan mempertimbangkan keterkaitannya dengan upaya pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam, penciptaan keserasian antara generasi serta peningkatan kesejahteraan rakyat. Penduduk usia lanjut memiliki pengalaman dan kearifan yang luas sehingga perlu diberikan perhatian untuk berperan didalam pembangunan. Selanjutnya pengendalian pertumbuhan penduduk juga dilakukan terutama untuk menurunkan angka kelahiran melalui gerakan KB Mandiri. Menurunkan angka kematian ibu dan anak Balita melalui program sayang ibu dan anak. Pengendalian kuantias penduduk dilakukan dengan langkah yang berhubungan dengan penetapan jumlah, sruktur dan komposisi sera pertumbuhan dan persebaran penduduk yang ideal. Pengarahan mobilitas dan persebaran penduduk harus memperhatikan kemampuan daya dukung alam dan sesuai dengan tata ruang yang diselenggarakan melalui transmigrasi, peningkatan sarana penunjang pertumbuhan ekonomi di wilayah sebaran, serta pemberian intensif bagi tenaga kerja sehingga mampu menggairahkan tenaga terdidik/terlatih untuk mengabdi di wilayah pertumbuhan baru.
2. 1. 3 Kondosi Ekonomi
            Kecamatan Tinggimoncong merupakan wilayah dataran tinggi dengan ketinggian kira-kira 1050 mdpl yang sebagian besar wilayahnya berupa lahan pertanian menyebabkan mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, baik sebagai petani pemilik lahan, petani penggarap ataupun buruh tani. Selain sebagai petani, sebagian lainnya bekerja sebagai pedagang, pegawai atau karyawan. Sektor informal yang banyak membantu masyarakat Tinggimoncong dalam memperoleh pekerjaan adalah keberadaan tempat/obyek wisata beragam yang merupakan sumber penghasilan yang cukup memadai.
Dalam bidang pertanian, pemanfaatan pengairan yaitu irigasi sederhana dengan memanfaatkan air dari sungai Jeneberang dan sungai Bulang yang mampu mengairi areal persawahan walaupun pada musim kemarau. Musim panen terutama padi dua kali dalam satu tahun dan hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga satu tahun ke depan diharapkan pemanfaatan sungai tersebut dapat menampung air dengan teknologi yang lebuh canggih dan produksi pertanian terutama padi diharapkan akan semakin meningkat. Bidang perdagangan dalam satu tahun kedepan diharapkan akan semakin besar konstribusinya terhadap peningkatan perekonomian masyarakat kecamatan Tinggimoncong. Bidang pariwisata merupakan bidang yang diharapkan dapat meningkatkan tingkat pendapatan penduduk, karena ditunjang dengan beragamnya tempat dan obyek wisata di kecamatan ini seperti air terjun Takapala, lembah biru, air terjun Bulang serta perbaikan akses jalan menuju wilayah ini diharapkan akan lebih baik. Perkembangan positif dibidang pertanian, perdagangan dan pariwisata di wilayah ini diperkirakan akan menyebabkan perekonomian di wilayah kecamatan Tinggimoncong tahun yang akan datang semakin menjanjikan.
2. 1. 4 Aksibilatas (Transportasi Darat, Laut dan Udara)
Transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi, perdagangan, pariwisata, social budaya, jasa pelayanan dan stabilitas keamanan. Sistem jaringan transportasi yang dimaksud adalah sistem jaringan jalan raya, kapal laut dan kapal udara, berfungsi menghubungkan sentra-sentra produksi ke sentrasentra/ node konsumsi. Dari segi fungsinya jalan raya meliputi jalan lokal, jalan kolektor, dan jalan arteri. Sedangkan dari segi manajemennya jalan raya meliputi jalan desa, jalan kabupaten, jalan provinsi dan jalan negara. Dalam menunjang perkembangan suatu wilayah, sistem transportasi sangat memegang peranan yang penting, sehingga penyediaan/pengembangan sarana dan prasarana perhubungan dalam suatu wilayah harus memadai dalam arti dapat menampung dan menunjang kelancaran aktivitas pergerakan yang ada dalam daerah itu sendiri maupun hubungannya dengan daerah lain. Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah. Transportasi wilayah menentukan tingkat aksesibilitas wilayah. Kondisi transportasi darat untuk menghubungkan antar wilayah masih sangat minim, kondisinya juga masih sangat memprihatinkan.
2. 2 Kondisi Wilayah dan Topografi
            Jenis tanah di Kecamatan Tinggimoncong antara lain Tropodult, Troporthent, dan Tropohumult. Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson bahwa dikecamatan Tinggimoncong memiliki jumlah rata–rata bulan basah 9 (>100mm) dan rata–rata bulan kering 3(<65mm) termasuk dalam tipe iklim C. Kecamatan Tinggimoncong memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Desember, Januari, Februari. Sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus dan September. Adapun penggunaan lahan di Kecamatan Tinggimoncong pada umumnya didominasi oleh hutan, selain itu juga banyak terdapat belukar, ladang. Wilayah Kecamatan Tinggimoncong memiliki topografi yang bervariasi, secara umum mulai dari datar, datar berbukit, datar bergelombang, bergelombang, dan curam. Setiap desa berbeda-beda tingkat topografinya.
2. 2. 1 Penggunaan Wilayah
            Di Kecamatan Tinggimoncong penggunan wilayah yaitu hutan, ladang, belukar, dan sawah. Pola pembangunan tanah yang sudah ada peruntukannya dan rencana alokasi penggunaan ruang berdasarkan Rencana Tata Ruang. Untuk mewujudkan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang pada skala wilayah dan kawasan, maka pola pemanfaatan ruang di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa terbagi dalam 2 (dua) kawasan, yaitu Kawasan Non-Budidaya dan Kawasan Budidaya. Dengan pola ini, proses penetapan kebijakan, peraturan, serta mekanisme perizinan dapat menjadi alat pengambilan keputusan dalam rangka perwujudan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang secara efektif. Kawasan-kawasan tersebut adalah sebagai berikut: Kawasan Non-Budidaya yaitu Kawasan Lindung, Hutan Suaka Alam dan Cagar Alam, dan Kawasan Perkebunan, Kawasan Budidaya Non-Pertanian yaitu Kawasan Pemukiman, Kawasan Pemukiman Transmigrasi dan Kawasan Pariwisata.
2. 3 Perkembangan Sektor Wilayah
2. 3. 1. Sektor Pertanian
            Potensi pertanian tanaman pangan yang yakni meliputi areal persawahan dengan potensi Irigasi. Tanaman pangan yang dikembangkan diantaranya padi, jagung, kedelai dan hortikultura yang tersebar pada kawasan potensial. Pada Tahun 2008 produksi padi (sawah dan ladang) mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun 2007. Hasil dari tanaman buah-buahan pada umumnya mengalami peningkatan, antara lain Markisa yang mengalami peningkatan dari 1 kw pada tahun 2007 menjadi 37.847 kw pada tahun 2008.
2. 3. 2 Peternakan
            Jenis usaha peternakan dibudidayakan di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa dibagi atas dua jenis yakni ternak besar dan kecil meliputi: sapi, kerbau, kuda, dan kambing, sedangkan ternak unggas adalah ternak ayam buras, ayam petelur, ayam pedaging, itik dan manila.
2. 3. 3 Kehutanan
            Berdasarkan data dan informasi dari Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa bahwa potensi kehutanan yang ada di kawasan Hutan berupa kayu yaitu Kayu Rimba Campuran, meranti, jati dan kayu indah potensi luas 13500 ha dan potensi produksi 15000 m3, Getah Pinus 80000 ton dan potensi luas 15126 ha (8377 ha di Kec Tinggimoncong) dan Rotan potensi produksi 5000 ton (267 ha di Kec. Tinggimoncong). Disamping itu terdapat juga hasil non kayu lainnya Getah Damar Mata Kucing, Damar Batu, Damar Kopal, Damar Pilan, Damar Rasak, Damar Daging dan damar Gaharu. Hasil lainnya Madu, Gula aren ijuk, Kemiri, Kenari, Asam, sutra dan Kulit kayu manis.

III. SKENARIO DESAIN DAN TATA RUANG
KECAMATAN TINGGI MONCONG
3.1 Analisa Aksebilitas
            Penggunaan transportasi merupakan kebutuhan sarana dan prasarana yang sangat menunjang dalam perkembangan interaksi antar daerah dan diharapkan dapat mendorong percepatan perkembangan antar wilayah khususnya dalam mendukung proses pertumbuhan dan pemerataan di bidang ekonomi, perdagangan, pariwisata, social budaya, jasa pelayanan dan stabilitas keamanan. Perancangan dengan pertimbangan analisa untuk memperbaiki infrastruktur jalan. Dengan cara mendesain jalan itu sendiri dengan peningkatan jalan akses meliputi pembangunan jembatan dan jalan dengan persimpangan 1- 4 dengan lebar 6 meter aspal ketebalan fondasi dan aspal akan dihitung untuk kebutuhan kendaraan berat. Hal ini sesuai yang di kemukakan Wijanto (1996) bahwa Penentuan Struktur Ruang tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi wilayah. menentukan tingkat aksesibilitas wilayah.
3. 2 Analisa Topografi
Wilayah Kecamatan Tinggimoncong memiliki topografi dari kemiringan lereng yakni :
 0 – 3 % ( Datar)
 3 – 8 % (Agak Datar)
 8 – 15 % (Bergelombang)
 15 – 25 % (Agak Curam)
 25 – 45 % (Curam)
 > 45 % (Sangat Curam)
3. 3 Analisa Pemanfaatan Lahan
            Di Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa Merencanakan penggunan wilayah yaitu hutan, ladang, belukar, dan sawah. Dengan pola ini, proses penetapan kebijakan, peraturan, serta mekanisme perizinan dapat menjadi alat pengambilan keputusan dalam rangka perwujudan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang secara efektif. Pemanfatan Hutan, belukar, ladang dan dan sawah memberikan beragam manfaat bagi kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini sesuai yang di kemukakan Gardner dan Engleman (1999), bahwa secara langsung, hutan dapat menghasilkan kayu industri, kayu bakar, dan hasil hutan non kayu, menyediakan lahan untuk permukiman dan pertanian dan lain sebagainya. Sementara itu secara tidak langsung, hutan dapat mengatur tata air dialam (hidrologi), menyimpan karbon, melestarikan keanekaragaman hayati dan habitat, pasokan oksigen, dan sebagai obyek pariwisata.

3. 4 Potensi Agronomi Daerah
            Berdasarkan kondisi wilayah, serta mengenai potensi agronomi daerah dilakukan penetapan komoditas unggulan pertanian akan dikembangkan di Kecamatan Tinggi moncong Kabupaten Gowa. Komoditas unggulan yang ditetapkan meliputi komoditas bersifat unggulan secara ekonomi, strategis, dan prospektif. Komoditas unggulan tersebut adalah sebagai berikut: Komoditas Unggulan: merupakan komoditas yang telah berkembang dan memiliki peran besar dalam pembentukan produk domestik regional. Komoditas Strategis adalah tanaman pangan seperti padi, jagung, dan singkong. Selain tanaman pangan, daerah Kecamatan Tinggimoncong juga berpotensi untuk ditanami tanaman hortikultura seperti sayuran (kentang, kubis, daun bawang, tomat, dan lain-lain), dan buah-buahan (markisa, mangga, dan manggis). Merupakan komoditas yang telah berkembang tetapi memiliki peran tidak terlalu besar dalam pembentukan produk domestik regional, namun mempunyai nilai strategis dalam ketahanan pangan dan stabilitas sosial. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No 24 Tahun 1992 Pasal 1 ayat 6 sampai 8, ditetapkan bahwa:
a.  Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya
b. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
c. Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan.
3. 5 Skenario Rekomendasi Perencanaan
3. 5. 1 Rekomendasi Keadaan Umum Lokasi
            Dalam perencanaan desain dan tata ruang pertanian pada daerah Kecamatan Tinggimoncong terdapat berbagai macam perencanaan yang signifikan yang membantu didalam proses peningkatan perubahan di daerah Malino tepatnya di Kecamatan Tinggimoncong secara menyeluruh baik didalam proses perubahan prospek pertanian sampai pada pembangunan jalan-jalan pada daerah Kecamatan Tinggimoncong. Dalam laporan ini, penulis menyertakan berbagai perencanaan prospek peningkatan pertanian kedepannya dengan meninjau dari berbagai sisi diantaranya kami lampirkan peta kemiringan lereng, peta unit lahan, peta jalan dan sungai serta peta penggunaan lahan. Selain perencanan peningkatan pertanian, tak kalah pentingnya dalam pengembangan wilayah kota yaitu, pelestarian budaya–budaya dan pelestarian hutan lindung sehingga nantinya akan selaras dengan pengembangan wilayah tanpa harus menggeser akan pembangunan dan pengembangan dibidang pertanian.
            Kelompok ini merupakan komoditas yang belum berkembang di Kecamatan Tinggi Moncong tetapi memiliki potensi permintaan yang besar, sehingga di masa datang dapat berperan dalam pembentukan produk domestik regional. Komoditas Kearifan Lokal : Markisa dikembangkan. Merekomendasikan Reboisasi terhadap hutan dan pembuatan ruang terbuka hijau dapat dilakukan pada daerah perkotaan sebagai lokasi resapan air. mengoptimalkan lahan perkebunan sebagai daerah pendukung lingkungan. Hal ini sesuai yang di kemukakan Ciptohadijoyo, (1999) bahwa Skenario rekomendasi perencangan daerah dengan system pemetaan harus mempertimbangkan segala aspek mulai dari kondisi geografis, sosial budaya, pertumbuhan ekonomi meliputi (pertanain, perkebunan, perindustrian, peternakan, kehutanan, dan lain-lain) dan melakukan perencanaan manster plan pertanian yang berkelanjutan dengan memanfaatkan Sumber Daya Alam yang tersedia.
3. 5. 3 Rekomendasi Penggunaan Lahan
A. Bidang Pertanian
Potensi pertanian tanaman pangan yang dimiliki oleh Kecamatan Tinggi moncong sangat lah besar, lahan di daerah tersebut masih dapat menghasilkan pendapatan ekonomi bagi warga sekitar di dua bulan berbeda (bulan basah dan bulan kering). Misalnya saja untuk tanaman pangan, untuk bulan basah dapat menanam padi, jagung, sorgum (sereal). Selain itu juga dapat ditanami kacang merah, kapri, buncis, dan mukuna (kacang-kacangan) serta ubi jalar, ubi kayu, talas, dan iles-iles (umbi-umbian). Sedangkan jika memasuki bulan kering, daerah tersebut masih dapat ditanami gandum, sorgum, ubi jalar, dan ubi kayu. Selain itu, pada umumnya Kecamatan Tinggimoncong juga dapat ditanami berbagai macam jenis sayuran baik itu pada bulan kering dan bulan basah. Pada bulan basah daerah ini cocok untuk ditanami kubis, gambas, selendri, selada, kentang, asparagus, brokoli, wortel, tomat, cabai, carica, bit, sawi, lettuce, kailan, petsai. Sedangkan untuk bulan kering cocok untuk ditanami bawang putih, dan daun bawang. Kecamatan Tinggimoncong juga ternyata dapat ditanami berbagai jenis rempah – rempah, baik pada bulan basah maupun bulan keringnya. Pada bulan basah yang cocok untuk ditanam adalah cengkeh, jarak, kayu manis, kunyit, lengkuas, kapulaga, akar wangi, dan serai wangi. Sedangkan pada bulan kering cocok ditanami kemiri dan jarak.
B. Bidang Perkebunan
            Untuk skala perkebunan, Kecamatan Tinggimoncong juga sangat cocok ditanami oleh berbagai jenis buah-buahan dan tanaman perkebunan lainnya baik pada bulan basah maupun pada bulan kering. Pada bulan basah cocok untuk ditanami buah jeruk, klengkeng, nangka, sukun, jambu air, jambu batu, sawo, kedondong, alpukat, kesemek, kina, teh, dan kopi Arabika. Sedangkan pada bulan kering cocok untuk ditanami buah apel, jeruk, alpukat, nangka, sukun, jambu batu, kedondong, klengkeng, kopi Arabika, tembakau, dan markisa.
C. Bidang Kehutanan
Pada Kecamatan Tinggimoncong tanaman hutan yang dapat berkembang dengan baik berdasarkan ketinggian tempatnya yakni Balsa, Jabon, Johar, Kaliandra, Kemiri, Mahoni, Meranti kuning, Sengon, dan tanaman pinus. Selain itu daerah tersebut juga cocok untuk ditanami be;lukar, belukar yang cocok di tanami pada daerah tersebut yaitu Saga, Urang aring, Bayam-bayaman, Pegangan, dan Krokot. Jenis–jenis penggunaan lahan untuk berbagai jenis tanaman :
a. Hutan Lindung dan Hutan Produksi
Di daerah Tinggimoncong terdapat beberapa desa yang memiliki hutan lindung dimana keberadaan hutan tersebut tidak dapat diganggu. Oleh karena itu, hutan lindung tersebut harus dapat sebaik mungkin di jaga kelestariannya guna sebagai tempat hidup beraneka ragam Flora dan Fauna. Di daerah hutan lindung tersebut meliputi berbagai desa seperti Bulu Lehaka, Bulu Lewakang, Bulu Batumenteng, Bulu diharelaju, Bulu Malenteng, Bulu Bontolaja, Bulu Bisolong, Bulu Batusipoko, dan sebagian dari daerah Bulu Kabulampoa. Pada Kecamatan Tinggimoncong juga terdapat banyak hutan, tetapi hutan tersebut kurang dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kami merekomendasikan daerah hutan untuk diubah, dengan meningkatkan levelnya dari hutan biasa menjadi hutan produksi, tetapi tetap mempertahankan fungsi awal dari hutan tersebut. Adapun tanaman hutan yang kami rekomendasikan untuk penanaman adalah Pinus, Kemiri, Mahoni, dan Jabon. Jenis tanaman ini kita pilih dengan mempertimbangkan jenis tanah, ketinggian tempat, dan iklim wilayah setempat. Adapun daerah yang kami rekomendasikan untuk dijadikan hutan produksi adalah daerah pengunungan pangkaleang, jambu kebo, bulu tanetelange, sebagian dari bulu batuejang, sebagian dari daerah bulu saringan dan sorongan, bulu ruku–ruku, bulu katoba, bulu bilang, dan bulu ganjeng.
b. Ladang dan Perkebunan
            Ladang merupakan salah satu jenis penggunaan lahan terbesaar di Kecamatan Tinggimoncong. Pada kenyataanya memang sudah banyak ladang–ladang yang berproduksi di daerah tersebut. Akan tetapi, kami bermaksud untuk dapat meningkatkan pendapatan ekonomi dari warga sekitar dengan merekomendasikan tanaman ladang atau perkebunan yang sesuai untuk di Tanami pada daerah tersebut, baik di tinjau dari ketinggian tempat, iklim (bulan basah dan bulan kering), jenis tanah, serta beberapa pertimbangan dari berbagai aspek yang ada. Adapun daerah-daerah yang akan penulis jadikan ladang diantaranya daerah malenteng, bulu pemokemama, bulu rea, bulu malahira, bulu parangkeda, bulu bontoloherang, bulu saleha, dan lekbasa. Beberapa jenis tanaman ladang yang penulis  rekomendasikan adalah sebagai berikut :
• Kacang–kacangan seperti kacang buncis dan kacang merah
• Serealia seperti jagung dan sorgum.
• Sayuran seperti kubis, seledri, selada, kentang, brokoli, wortel, tomat, daun bawang, cabai, dan sawi
• Buah-buahan seperti jeruk, nangka, alpukat, dan markisa
• Perkebunan seperti the dan kopi arabika
• Obat–obatan dan rempah seperti cengkeh, jarak, kayu manis dan akar wangi.
c. Belukar dan Persawahan
            Pada Kecamatan Tinggimoncong hampir sebagian daerahnya di dominasi oleh hutan belukar. Pada kenyataanya masih banyak hutan belukar yang tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga tidak dapat menambah pendapatan ekonomi masyarakat di daerah tersebut, maka dari itu kami merekomendasikan hutan belukar tersebut dapat berproduksi semaksimal mungkin sehingga dapat menunjang kehidupan masyarakat sekitarnya. Akan tetapi tetap mempertahankan bentuknya sebagai hutan belukar. Salah satu cara dalam meningkatkan hutan belukar tersebut dengan mengganti atau mmperhatikan tanaman yang ada diskitar hutan belukar tersebut. Adapun tanaman yang cocok direkomendasikan dalam hutan belukar antara lain Saga (Abrus Precatorius, Linn), Urang Aring (Eclipta Prostata), Pengagan (Ginko biloba dan Centela Asiatica ), bayam- bayaman (Amarantaceae ), krokot (portulaca oleoraceae). Adapun daerah persebaran belukar meliputi bulu buntala, sebagian dari bulu batu ejang, bulu karangpuang, bulu halahalaya, dan bulu bululoe. Pada Kecamatan Tinggimoncong terdapat daerah persawahan antara lain jambu kebo, mandale, batu lapisi luar, langkoa, simbang, tombolo, mangrojai, mamapang, sekitar sungai balangloka dan balangbajang.
e. Perumahan
            Kecamatan Tinggimoncong memilki daerah perumahan seperti patatuku, mamapang, sanggiringang, jaleko, ballacamba, lembangbata, paktekne, pattapang, biringpanting, langkoa, pabbarung, mangrojai, mappadang, mangrojaning, buki 1, buki 2, lapparanamangottong, bolongbuki, lappara, baraya, cengkong, cengkarana, mamangpang, benga, balasuka, lembangteko, sapiriborong, dan balangbolang.

IV. KESIMPULAN
Dari hasil perencanaan yang telah dikemukakan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Kecamatan Tinggimoncong yang terletak diKabupaten Gowa memiliki banyak potensi untuk lebih berkembang dibidang ekonomi yakni dibidang pertanian, peternakan, kehutanan. Kecamatan Tinggimoncong merupakan wilayah dataran tinggi dengan ketinggian kira-kira 1050 mdpl yang sebagian besar wilayahnya berupa lahan pertanian menyebabkan mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, baik sebagai petani pemilik lahan, petani penggarap ataupun buruh tani. Tanaman pangan yang dikembangkan diantaranya padi, jagung, kedelai dan hortikultura yang tersebar pada kawasan potensial. Daerah tersebut didominasi oleh belukar dan ladang, dipresentasikan daerah tersebut memiliki belukar sekitar 45%, ladangnya sekitar 37%, dan hutan disekitar kawasan tinggi moncong sekitar 25%. Kecamatan Tinggimoncong memiliki topografi yang bervariasi, secara umum mulai dari datar, datar berbukit, datar bergelombang, bergelombang, dan curam. Setiap desa berbeda-beda tingkat topografinya.

Makalah Pengendalian Erosi secara vegetatif


PENDAHULUAN
Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan pada suatu tempat lain. Pengangkutan atau pemindahan tanah tersebut terjadi oleh media alami yaitu antara lain air atau angin. Erosi oleh angin disebabkan oleh kekuatan angin, sedangkan erosi oleh air ditimbulkan oleh kekuatan air.
Kekuatan perusak air yang mengalir di atas permukaan tanah akan semakin besar dengan semakin panjangnya lereng permukaan tanah. Tumbuhan-tumbuhan yang hidup di atas permukaan tanah dapat memperbaiki kemampuan tanah menyerap air dan memperkecil kekuatan butir-butir perusak hujan yang jatuh, serta daya dispersi dan angkutan aliran air di atas permukaan tanah. Perlakuan atau tindakan-tindakan yang diberikan manusia terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan di atasnya akan menentukan kualitas lahan tersebut.
Berbagai langkah konservasi lahan kritis telah dilakukan pemerintah antara lain dengan reboisasi dan penghijauan. Tetapi keberhasilan program reboisasi baru sekitar 68% sedangkan penghijauan hanya 21%. Hal ini terjadi karena tiga kemungkinan yaitu kurang tepatnya teknologi yang diterapkan, kondisi lahan kurang dipelajari secara cermat dan tidak diterapkannya teknologi secara sepenuhnya.
Paradigma pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi telah memacu pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan sehingga eksploitasi sumberdaya alam semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan manusia. Akibatnya sumberdaya alam semakin langka dan menurun baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pemanfaatan sumberdaya secara berlebihan telah menyebabkan kondisi tanah menjadi kritis (rusak).
Data pusat penelitian tanah dan agroklimat menyebutkan pada tahun 2005 terdapat lahan kritis yang mencapai luasan 52,5 hektar. Lahan kritis sebagian besar terdapat di hulu DAS yang bentuk wilayahnya berbukit dengan curah hujan sangat tinggi sehingga dalam pemanfaatannya harus berhati-hati karena dengan kondisi seperti itu dapat memicu erosi yang berakibat pada degradasi lahan. Lahan kering umumnya menjadikan air sebagai faktor pembatas yang utama dalam pengelolaannya, oleh karena itu ketersediaan air menjadi sesuatu yang sangat penting dalam pengelolaaan lahan kritis.
Untuk dapat menjamin adanya ketersediaan air baik dimusim penghujan dan musim kemarau diperlukan teknologi yang applicable dan hemat biaya karena pada umumnya petani lahan kering hidup dalam garis kemiskinan. Beberapa penelitian konservasi air dan lahan kritis telah dilakukan dan diujicoba untuk dapat memaksimalkan simpanan air hujan dan mengoptimalkan manfaat sumberdaya air terutama pada musim kemarau.
Dari tulisan ini, maka akan diuraikan tentang tanaman atau sisa tanaman yang baik dalam mengendalikan erosi secara vegetative.
.


PEMBAHASAN
Metode vegetatif yaitu metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah, penutupan lahan oleh seresah dan tajuk yang akan mengurangi evaporasi dan dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah sehingga memperbesar jumlah infiltrasidan mencegah terjadinya erosi.
Metode vegetatif juga memiliki manfaat dari segi vegetasi tanaman kehutanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga dapat menambah pendapatan petani.
Aplikasi Metode Vegetatif :
A. Sistem Pertanaman Lorong
Sistem pertanaman lorong adalah suatu sistem dimana tanaman pangan ditanam pada lorong diantara barisan tanaman pagar. Sistem ini sangat bermanfaat dalam mengurangi laju limpasan permukaan dan erosi dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama unsur N untuk tanaman lorong. Teknologi budidaya lorong telah lama dikembangkan dan diperkenalkan sebagai salah satu teknik konservasi lahan kritis untuk pengembangan sistem pertanian berkelanjutan pada lahan kritis/kering di daerah tropika basah namun belum diterapkan secara luas oleh petani.
Pada budidaya lorong konvensional tanaman pertanian ditanam pada lorong-lorong diantara barisan tanaman pagar yang ditanam menurut kontur. Barisan tanaman pagar yang rapat diharapkan dapat menahan aliran permukaan serta erosi yang terjadi pada areal tanaman budidaya, sedangkan akarnya yang dalam dapat menyerap unsur hara dari lapisan tanah yang lebih dalam untuk kemudian dikembalikan ke permukaan melalui pengembalian sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar.
B. Sistem Pertanaman Strip Rumput
Konservasi lahan kritis dengan sistem pertanaman strip rumput hampir sama dengan pertanaman lorong tetapi tanaman pagarnya adalah rumput. Strip rumput dibuat mengikuti kontur dengan lebar strip 0,5 meter atau lebih. Semakin lebar strip semakin efektif mengendalikan erosi. Sistem ini dapat diintegrasikan dengan ternak. Penanaman rumput pakan ternak di dalam jalur strip. Penanaman dilakukan menurut garis kontur dengan letak penanaman dibuat selang seling agar rumput dapat tumbuh baik dan usahakan penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Selain itu tempat jalur rumput sebaiknya di tengah antara barisan tanaman pokok.
C. Tanaman Penutup Tanah
Tanaman ini merupakan tanaman yang ditanam tersendiri atau bersamaan dengan tanaman pokok. Manfaat tanaman penutup antara lain untuk menahan atau mengurangi daya perusak bulir-bulir hujan yang jatuh dan aliran air diatas permukaan tanah, menambah bahan organik tanah (melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh), serta berperan melakukan transpirasi yang mengurangi kandungan air tanah.
Peranan tanaman penutup tanah adalah mengurangi kekuatan disperasi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah sehingga mengurangi erosi.
Penyiangan intensif dapat menyebabkan tergerusnya lapisan atas tanah. Untuk menghindari persaingan antara tanaman penutup tanah dengan tanaman pokok pada konservasi lahan kritis dengan teknik ini dapat dilakukan dengan penyiangan melingkar (ring weeding). Tanaman penutup tanah yang digunakan dan sesuai untuk sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat diantaranya harus mudah diperbanyak (sebaiknya dengan biji), memiliki sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok tetapi memiliki sifat mengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun, toleransi terhadap pemangkasan, resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya, sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah dan tidak memiliki sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti berduri atau sulur yang membelit.
Empat jenis tanaman penutup yang dapat digunakan yaitu :
a.      Tanaman Penutup  Tanah Rendah
Tanaman penutup tanah rendah terdiri dari jenis rumput-rumputan  dan tumbuhan merambat atau menjalar:
·         Dipakai dalam pola pertanaman rapat : Calopogonium muconoides Desv, Centrocema pubescens Benth, Mimosa invisa Mart, Peuraria phaseoloides Benth.
calo-cs.jpg
·         Digunakan dalam pola pertanaman barisan: Eupatorium triplinerve Vahl (daun panahan, godong, prasman, jukut prasman), Salvia occidentalis Schwartz (langon, lagetan, randa nunut), Ageratum mexicanum Sims.
http://bebasbanjir2025.files.wordpress.com/2008/10/eupa-cs.jpg
·         Digunakan untuk penguat teras dan saluran-saluran air: Althenanthera amoena Voss (bayem kremah, kremek), Indigofera endecaphylla jacq (dedekan),  Ageratum conyzoides L (babandotan),  Erechtites valerianifolia  Rasim (sintrong), Borreria latifolia Schum (bulu lutung, gempurwatu),  Oxalis corymbosa DC,  Brachiaria decumbens, Andropogon zizanoides (akar
wangi), Panicum maximum (rumput benggala), Panicum ditachyum (balaba, paitan, Paspalum dilatum (rumput Australia), Pennisetum purpureum (rumput gajah).
alther-cs.jpg
b.      Tanaman Penutup Tanah Sedang (Perdu)
Dipakai dalam pola pertanaman teratur di antara baris tanaman pokok: Clibadium surinamense var asperum baker, Eupatorium pallessens DC (Ki Dayang, Kirinyuh)
cli2.jpg
·         Digunakan dalam pola pertanaman pagar : Lantana camara L (tahi ayam, gajahan, seruni), Crotalaria anagyroides HBK, Tephrosia candida DC, Tepherosia vogelii, Desmodium gyroides DC (kakatua, jalakan), Acacia villosa Wild (lamtoro merah), Sesbania grandiflora PERS (turi), Calliandra calothyrsus Meissn (kaliandra merah), Gliricidia maculata (johar cina, gamal), Flemingia congesta Roxb, Crotalaria striata DC., Clorataria juncea, L. Crotalaria laurifolia Poir (urek-urekan, kacang cepel),  Cajanus cajan Nillst (kacang hiris, kacang sarde)  dan Indigofera arrecta Hooscht.

lan.jpg
·         Penggunaan di luar areal pertanaman utama dan merupakan sumber pupuk hijau dan mulsa,  untuk penghutanan dan perlindungan dinding jurang: Leucaena glauca (L) Benth (pete cina, lamtoro, kemelandingan), Tithonia tagetiflora Desp, Graphtophyllum pictum Gries (daun ungu, handeuleum), Cordyline fruticosa Backer,Eupatorium riparium REG.
leu.jpg
c.       Tanaman Penutup Tanah Tinggi Atau Tanaman Pelindung
·         Digunakan dalam pola teratur di antara baris tanaman utama: Albizia falcata (sengon laut, jeunjing), Grevillea robusta A Cum, Pithecellobium saman benth (pohon hujan), Erythrina sp (dadap), Gliricidia sepium
albi.jpg
  • Dipakai dalam barisan: Leucaena glauca atau Leucaena leucocephala
  • Penggunaan untuk melindungi jurang, tebing atau untuk penghutanan kembali: Albizia falcate dan Leucaena glauca, Albizia procera Benth, Acacia melanoxylon, Acacia mangium, Eucalyptus saligna, Cinchona succirubra, Gigantolochloa apus (bamboo apus), Dendrocalamus asper, Bambusa bambos
albicin1.jpg

d.      Tumbuh-Tumbuhan Bawah (Undergrowth) Alami Pada Perkebunan

Banyak usaha telah dilakukan pada beberapa perkebunan, terutama perkebunan karet, dalam memanfaatkan tumbuh-tumbuhan bawah alami untuk melindungi tanah.

e.       Tumbuhan Yang Tidak Disukai

Banyak tumbuhan  yang termasuk dalam tumbuhan pengganggu atau tidak disukai yang dapat berfungsi sebagai penutup tanah atau pelindung tanah terhadap ancaman erosi. Tumbuh-tumbuhan itu tidak disukai karena sifat-sifatnya yang merugikan tanaman pokok dan sulit diberantas atau dibersihkan  dari lahan usaha pertanian: Imperata cylindrica, Panicum repens (lampuyangan), Leersia hexandra (kalamento), Saccharum spontaneum (gelagah), Anastrophus compressus dan Paspalum compressum (tumput pahit).




D. Mulsa
Mulsa adalah bahan-bahan (sisa panen, plastik dan lain-lain) yang disebar atau digunakan untuk menutup permukaan tanah. Bermanfaat untuk mengurangi penguapan serta melindungi tanah dari pukulan langsung butir-butir air hujan yang akan mengurangi kepadatan tanah. Mulsa dapat berupa sisa tanaman, lembaran plastik dan batu. Mulsa sisa tanaman terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi, batang jagung), pangkasan dari tanaman pagar, daun-daun dan ranting tanaman. Bahan tersebut disebarkan secara merata di atas permukaan tanah setebal 2 s/d 5 cm sehingga permukaan tanah tertutup sempurna.
Pada sistem agribisnis yang intensif dengan jenis tanaman bernilai ekonomis tinggi sering digunakan mulsa plastik untuk mengurangi penguapan air dari tanah, menekan hama penyakit dan gulma. Lembaran plastik dibentangkan di atas permukaan tanah untuk melindungi tanaman. Di pegunungan batu-batu cukup banyak tersedia sehingga bisa digunakan sebagai mulsa untuk tanaman pohon-pohonan. Permukaan tanah ditutup dengan batu yang disusun rapat dengan ukuran batu berkisar antara 2 s/d 10 cm.
Dalam pedoman praktek konservasi tanah dan air lahan kritis BP2TPDAS-IBB ditunjukan peranan yang signifikan dari mulsa terhadap aliran permukaan, infiltrasidan erosi pada lahan dengan kemiringan 5%. Penelitian yang dilakukan oleh Thamrin dan Hanafi (1992) juga menunjukkan bahwa pemberian mulsa seresah tanaman dapat menghemat lengas tanah dari proses penguapan sehingga kebutuhan tanaman akan lengas tanah terutama musim kering dapat terjamin. Selain itu pemberian mulsa seresah juga dapat menghambat pertumbuhan gulma yang mengganggu tanaman sehingga konsumsi air lebih rendah.
E. Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape)
Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape) mengikuti kebutuhan air yang sama sehingga irigasi dapat dikelompokkan sesuai kebutuhan tanaman. Teknik konservasi lahan kritis seperti ini dilakukan dengan cara mengelompokkan tanaman yang memiliki kebutuhan air yang sama dalam satulandscape. Pengelompokkan tanaman tersebut akan memberikan kemudahan dalam melakukan pengaturan air. Air irigasi yang dialirkan hanya diberikan sesuai kebutuhan tanaman sehingga air dapat dihemat.
F. Penyesuaian Jenis Tanaman Dengan Karakteristik Wilayah
Teknik konservasi ini dilakukan dengan cara mengembangkan kemampuan dalam menentukan berbagai tanaman alternatif yang sesuai dengan tingkat kekeringan yang dapat terjadi dimasing-masing daerah. Sebagai contoh tanaman jagung yang hanya membutuhkan air 0,8 kali padi sawah akan tepat jika ditanam sebagai pengganti padi sawah untuk antisipasi kekeringan. Pada daerah hulu DAS yang merupakan daerah yang berkemiringan tinggi penanaman tanaman kehutanan menjadi komoditas utama.
G. Penentuan Pola Tanam Yang Tepat
Baik untuk areal yang datar maupun berlereng penentuan pola tanam disesuaikan dengan kondisi curah hujan setempat untuk mengurangi devisit air pada musim kemarau. Hasil penelitian Gomez (1983) menunjukkan bahwa pada lahan dengan kemiringan 5% dengan pola tanam campuran ketela pohon dan jagung akan dapat menurunkan run off dari 43% menjadi 33% dari curah hujan dibandingkan dengan jagung monokultur. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan besar kebutuhan air tiap jenis vegetasi. Besarnya kebutuhan air beberapa jenis tanaman dapat menjadi acuan dalam membuat pola tanam yang optimal.

PENUTUP
Metode vegetatif yaitu metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. Aplikasi metode vegetative yaitu system pertanaman lorong, sistem pertanaman strip rumput, tanaman penutup tanah, mulsa, pengelompokan tanaman dalam suatu bentang alam (landscape), penyesuaian jenis tanaman dengan karakteristik wilayah, penentuan pola tanam yang tepat. 

Pupuk dan Pemupukan


I.                   PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kesuburan tanah suatu lahan pertanian berbeda-beda, tergantung dari bahan organik yang terkandung di dalam setiap lapisan tanah, topografi, tekstur, struktur, solum dan juga aktifitas mikroorganisme dalam tanah.  Kesuburan tanah ini mempunyai arti yang sangat penting sebab tanah subur adalah tanah yang mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk dapat menyediakan  unsur hara bagi tanaman dengan jumlah tepat sehingga dapat menghasilkan produksi  optimal.
Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Salah satu jenis pupuk organik adalah kompos Dilihat dari sumber pembuatannya, terdapat dua kelompok besar pupuk: (1) pupuk organik atau pupuk alami (bahasa Inggris: manure) dan (2) pupuk kimia atau pupuk buatan (Ing. fertilizer). Pupuk kimia biasanya lebih "murni" daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. Pupuk organik sukar ditentukan isinya, tergantung dari sumbernya; keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif.
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka perlu untuk melakukan praktikum pupuk dan pemupukan. Sehingga dengan adanya praktikum ini dapat menjadi bahan informasi bagi mahasiswa untuk melakukan apilkasi pemupukan yang baik terhadap kebutuhan tanaman untuk melangsungkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
1.2. Tujuan dan kegunaan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk N, P, K, dan jarak tanam pada pertumbuhan tanaman padi (Oryza sativa.).
Kegunaannya adalah sebagai bahan informasi dan acuan dalam aplikasi dan rekomendasi penggunaan pupuk N, P, K, dan jarak tanam pada  tanaman padi (Oryza sativa.). 
II.                TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Komoditi Padi
Padi (Oryza sativa L) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM ( Badan Litbang, 2008 ).
Klasifikasi ilmiah untuk tanaman padi ialah sebaga berikut :
Kerajaan:
Divisi:
(tidak termasuk)
(tidak termasuk)
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
O. sativa
Padi gogo pada umumnya diusahakan pada lahan kering yang penanamannya dilakukan pada awal musim hujan. Menurut Noor (1996), kebutuhan air padi gogo tergantung pada ketersediaan air hujan atau air tanah tanpa genangan. Padi gogo dibudidayakan di tanah tegalan secara tetap sehingga telah beradaptasi dengan kondisi lahan kering yang biasa mengalami berbagai tekanan (stress) yang disebabkan oleh kekeringan, kekahatan berbagai unsur hara, erosi dan gangguan gulma.
Tanaman padi gogo memerlukan kondisi iklim dan tanah yang sesuai agar pertumbuhan dan produksi optimal. Pertumbuhan optimal padi gogo memerlukan syarat iklim khusus. Faktor iklim yang sangat menentukan adalah curah hujan, karena untuk pertumbuhan dan perkembangannya bergantung pada air dari curah hujan (Basyir et al., 1995). Padi gogo dapat tumbuh dan berproduksi baik pada daerah dengan curah hujan 200 mm per bulan atau lebih dengan distribusi merata selama 4 bulan (Grist, 1975 dalam Suardi, 2002). Suhu yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan padi gogo adalah antara 200 C sampai 310 C serta dapat tumbuh pada ketinggian 0 sampai 1.300 m dpl (IRRI, 1979, dalam Basyir et al., 1995).
Faktor iklim lain yang sangat penting dan menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman padi gogo yaitu radiasi matahari. Semakin tinggi intensitas cahaya matahari yang diserap makin tinggi pula energi yang diterima oleh tanaman untuk melakukan fotosintesis (Prawiranata et al., 1981). Intensitas radiasi matahari di daerah tropis lebih rendah dibandingkan di daerah subtropis. Rendahnya intensitas radiasi matahari mengakibatkan rangsangan menutupnya stomata menjadi lebih cepat dan proses fotosintesis tidak berjalan sempurna, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi gogo terhambat. Faktor ini menyebabkan hasil padi gogo di daerah tropis relatif rendah, karena padi gogo biasanya ditanam pada musim hujan pada saat intensitas radiasi matahari rendah (Gupta dan O’Toole, 1986, dalam Basyir et al., 1995). 
Pelaksanaan pengolahan tanah untuk tanaman padi gogo sama seperti tanaman padi lainnya, hanya saja untuk mendapatkan kesuburan tanah yang maksimum supaya dapat dihisap oleh akar tanaman padi gogo maka pengolahan tanah dilakukan dengan 2 tahap dengan waktu yang tertentu pula. Pengolahan tanah pertama dilakukan pada musim kemarau atau pertama musim hujan sehingga tanah sudah lembab, hal ini memudahkan pengolahan tanah sesuai yang diinginkan (Badan Litbang,2008).
2.2.Tanah
Padi gogo harus dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, sehingga jenis tanah tidak begitu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil padi gogo. Sedangkan yang lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil adalah sifat fisik, kimia dan biologi tanah atau dengan kata lain kesuburannya. Untuk pertumbuhan tanaman yang baik diperlukan keseimbangan perbandingan penyusun tanah yaitu 45% bagian mineral, 5% bahan organik, 25% bagian air, dan 25% bagian udara, pada lapisan tanah setebal 0 – 30 cm (Perdana, 2012).
Struktur tanah yang cocok untuk tanaman padi gogo ialah struktur tanah yang remah. Tanah yang cocok bervariasi mulai dari yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan air yang tersedia diperlukan cukup banyak. Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada harus < 50%. Keasaman (pH) tanah bervariasi dari 5,5 sampai 8,0. Pada pH tanah yang lebih rendah pada umumnya dijumpai gangguan kekahatan unsur P, keracunan Fe dan Al. sedangkan bila pH lebih besar dari 8,0 dapat mengalami kekahatan Zn (Perdana, 2012).

2.3. Definisi Pupuk
Pupuk digolongkan menjadi dua, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa mahluk hidup yang diolah melalai proses pembusukan (dekomposisi) oleh bakteri pengurai. Contohnya adalah pupuk kompos dan pupuk kandang. Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa tanaman, dan pupuk kandang berasal dari kotoran ternak. Pupuk organik mempunyai komposisi. (Novizan, 2003).
Kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut rendah. Sesuai dengan namanya, kandungan, kandungan bahan organik pupuk ini termasuk tinggi. Pupuk organik buatan adalah pupuk organik yang dibuat dengan teknologi tinggi sehingga dihasilkan pupuk yang bersifat organik tetapi dengan bentuk fifik dan cara kerja seperti pupuk kimia. Pupuk ini mampu memperbaiki sifat fisik.pupuk ini juga tidak mencemari lingkungan. Karena itu konsep “Organic Farming” yang mengenjurkan pemupukan hanya dengan pupuk organik dan tidak menggunakan pupuk anorganik yang dapat mencemari lingkungan mulai banyak dikembangkan. (Sutedjo, 1991).
Pupuk anorganik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki persentase kandungan hara yang tinggi. Contohnya pupuk anorganik adalah Urea, TSP, dan Gandasil. Jenis pupuk buatan sangat banyak  (Jumin,1994).
Menurut jenis unsur hara yang dikandungnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pada pupuk tunggal, jenis unsur hara yang dikandungnya hanya satu macam. Biasanya berupa unsur hara makro primer, misalnya urea yang hanya mengandung  unsure nitrogen. Pupuk majemuk adalah pupuk ini lebih praktis, karena hanya dengan  satu jenis unsur hara. Penggunaan pupuk ini lebih praktis, karena hanya dengan satu penebaran, beberapa jenis unsur hara dapat diberikan. Contohnya pupuk majemuk antara lain diamonium phosphat yang mengandung unsur nitrogen, Phosphor, dan kalium. (Jumin, 1994).
2.3.1. Pupuk Urea
Pupuk Urea (CO(NH2)2) mengandung 46 % nitrogen (N). karena kandungan N yang tinggi menyebabkan pupuk ini menjadi sangat higroskopis. Urea sangat mudah larut dalam air dan bereaksi cepat, juga mudak menguap dalam bentuk ammonia. Jika di dalam tanah, nitrogen urea berubah menjadi ammonium akan terikat langsung oleh koloid tanah. Bahan dasarnya biasanya berupa gas alam dan merupakan ikatan hasil tambang minyak bumi. Kandungan N total berkisar antara 45-46 %. Dalam proses pembuatan Urea sering terbentuk senyawa biuret yang merupakan racun bagi tanaman kalau terdapat dalam jumlah yang banyak. Agar tidak mengganggu kadar biuret dalam Urea harus kurang 1,5-2,0 %. Kandungan N yang tinggi pada Urea sangat dibutuhkan pada pertumbuhan awal tanaman (Nurhayati , dkk, 1986)
            Manfaat unsure hara nitrogen pada urea membuat bagian tanaman lebih hijau dan segar, mempercepat pertumbuhan dan menambah kandungan protein hasil panen. Gejala kekurangan unsure hara nitrogen pada tanaman yaitu seluruh tanaman berwarna pucat kekuningan, pertumbuhan lamabtdan kerdil, daun tua berwarna kekuningan pada tanaman padi dimulai dari ujung daun menajalar ke tulang daun, pertumbuhan buah tidak sempurna seringkali masak sebelum waktunya, dan jika dalam keadaan kekurangan yag parah daun menjadi kering dimulai dari bagian bawah tanaman terus ke bagian atas tanaman (Nurhayati , dkk, 1986).
            Kelebihan pupuk urea yaitu ketika pupuk urea digunakan sesuai porsi dan diukur melalui metodologi yang tepat, maka ureaakan memberikan hasil produksi yang optimal. Pupuk urea dapat dengan mudah disimpan, diangkut dan ditangani denganaman. Urea tidak berpotensi menimbulkan bahaya ledakan. Komposisi nutrisi / unsur hara nitrogen yang diberikan oleh ureadapat meningkatkan produktivitas tanah dan memperkaya kandungan nutrisinya. Urea juga memberikan unsur-unsurrelevan yang diperlukan tanaman, sehingga urea dapat menopang kehidupan tanaman (Anonimb, 2012).
Pupuk urea juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain : urea dapat menghasilkan polutan berbahaya selama prosesproduksi pada proses produksi yang melibatkan emisi gas polutan di udara. Selain dapat menambah unsur hara nitrogenbagi tanah, pada kondisi tertentu urea dapat mengganggu kestabilan pH di dalam tanah yang mengakibatkan terganggunyakesuburan alami tanah tersebut (Anonimb, 2012)
2.3.2 Pupuk SP36
Pupuk SP36 mengandung 36 phosphor dalam bentuk P2O5. Pupuk ini terbuat dari phosphate alam dan sulfat. Berbentuk butiran dan berwarna abu-abu. Sifatnya agak sulit larut di dalam air dan bereaksi lambat sehingga selalu digunakan sebagai pupuk dasar. Reaksi kimianya tergolong netral, tidak higroskopis, dan tidak bersifat membakar. SP 36 merupakan pupuk fosfat yang berasal dari batuan fosfat yang ditambang. Kandungan unsur haranya dalam bentuk P2O5 SP 36 adalah 46 % yang lebih rendah dari TSP yaitu 36 %. Dalam air jika ditambahkan dengan ammonium sulfat akan menaikkan serapan fosfat oleh tanaman. Namun kekurangannya dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, lamban pemasakan dan produksi tanaman rendah. (Hakim, dkk, 1986).
2.3.3 Pupuk KCl
Pupuk (KCl) mengandung 45 % K2O dan khor, bereaksi agak asam, dan bersifat higrokopis. Khor berpengaruh negative pada tanaman yang tidak membutuhkannya misalnya kentang, wortel, dan tembakau. Pupuk KCl memiliki rumus kimia KCl, kadar K2O 52-55 %, reaksi fisiologis masam lemah, agak higroskopis, hanya digunakan untuk tanaman yang tahan akan Clorida (Anonim,2012).
Pembuatan pupuk KCl melalui proses ekstraksi bahan baku (deposit K) yang kemudian diteruskan dengan pemisahan bahan melalui penyulingan untuk menghasilkan pupuk KCl. Kalium klorida (KCl) merupakan salah satu jenis pupuk kalium yang juga termasuk pupuk tunggal. Kalium satu-satunya kation monovalen yang esensial bagi tanaman. Peran utama kalium ialah sebagai aktivator berbagai enzim. Kandungan utama dari endapan tambang kalsium adalah KCl dan sedikit K2SO4. Hal ini disebabkan karena umumnya tercampur dengan bahan lain seperti kotoran, pupuk ini harus dimurnikan terlebih dahulu. Hasil pemurniannya mengandung K2O sampai 60 %. Pupuk Kalium (KCl) berfungsi mengurangi efek negative dari pupuk N, memperkuat batang tanaman, serta meningkatkan pembentukan hijau dan dan dan karbohidrat pada buah dan ketahanan tanaman terhadap penyakit. Kekurangan hara kalium menyebabkan tanaman kerdil, lemah (tidak tegak, proses pengangkutan hara pernafasan dan fotosintesis terganggu yang pada akhirnya mengurangi produksi. Kelebihan kalium dapat menyebabkan daun cepat menua sebagai akibat kadar Magnesium daun dapat menurun. Kadang-kadang menjadi tingkat terendah sehingga aktivitas fotosintesa terganggu ( Anonim,2012 ).
2.4 Parameter Pengamatan
Menurut Anonima (2012), parameter pengamatan pertumbuhan tanaman padi, meliputi :
a). Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman padi ( Oryza sativa ) diukur menggunakan mistar yang pengukurannya mulai dari dasar batang tanaman sampai pada ujung daun yang paling panjang.
b). Jumlah Anakan
Menghitung jumlah anakan tanaman setiap minggu sampai pengamatan terakhir.  
2.5 Perlakuan
Pada praktikum kali ini perlakuan yang diberikan adalah “DIII” yaitu jarak tanam ditambah 25% dengan dosis urea dikurangi 50%, KCL standar dan sp-36 standar. Jarak tanam standar padi gogo adalah 20 cm x 20 cm sementara perlakukan yang diberikan ditambah 25% sehingga jarak tanamnya menjadi 25 cm x 25 cm.
           
Menurut Anonima (2012) penentuan dosis pupuk untuk padi gogo dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :
ü  Urea = 300 Kg/ha
Kebutuhan pupuk untuk lahan 2 m x 2 m (4 m2)  :
Kebutuhan pupuk untuk tiap tanaman                  :
Tetapi perlakuan yang diberikan untuk pemupukan Urea dikurangi 50 % maka pemberian pupuk pada tiap tanaman yaitu 0,9375 gram/ tanaman
ü  SP-36 = 200 Kg/ha
Kebutuhan pupuk untuk lahan 2 m x 2 m (4 m2)  :
Kebutuhan pupuk untuk tiap          tanaman                     :
ü  KCL = 150 Kg/ha
Kebutuhan pupuk untuk lahan 2 m x 2 m (4 m2)  :
Kebutuhan pupuk untuk tiap tanaman                  :

III.             METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum pupuk dan pemupukan ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian (Exfarm), Jurusan Ilmu Tanah, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada hari rabu 14 maret - 9 mei 2012, pukul 15.30 WITA.
3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah cangkul, meteran, linggis, ember dan pisau.
Adapun bahan-bahan yang dignakan yaitu benih padi gogo, air, tali rapia, pupuk KCL, pupuk SP36 dan pupuk Urea.
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Persiapan Lahan
Adapun prosedur kerja persiapan lahan dari praktikum ini adalah:
1.)    Pilih lahan yang akan digunakan untuk praktikum.
2.)    Bersihkan lahan dan rumput-rumput kemudian bagi lahan sesuai dengan ukuran yang ditentukan.
3.)    Gemburkan lahan yang akan ditanamami benih dan siram dengan air.
4.)    Lahan siap ditanami benih.



3.3.2 Penanaman Benih
Adapun prosedur kerja penanaman benih dari praktikum ini adalah:
1.)    Sebelum ditanam rendam benih selama 1 hari dalam air.
2.)    Kemudian berikan patokan sesuai dengan jarak tanam yang akan digunakan agar memudahkan dalam menanam benih.
3.)    Tanam benih dengan cara memasukkan dalam lubang sedalam 2 cm sebanyak 3 biji kemudian ditutup dengan tanah.
4.)    Pasangkan tali rapia pada masing-masing lahan untuk membedakan antara lahan satu dengan lainnya.
3.3.3 Pemupukan
Adapun prosedur kerja pemupukan dari praktikum ini adalah:
1.)    Berikan pupuk dasar bersamaan dengan penanaman benih yaitu pupuk KCl dan pupuk SP36.
2.)    Berikan pupuk dengan cara menabur disekitar benih tanaman. Jangan sampai mengenai benih yang ditanam.
3.)    Berikan pemupukan kedua yaitu urea 2 minggu setelah hari tanam, dengan cara menanam dalam lubang sekitar akar tanaman.
4.)    Tutup dengan tanah agar tidak menguap.
3.3.4 Pengukuran
Adapun prosedur kerja pengukuran dari praktikum ini adalah:
1.)    Siapkan alat ukur (penggaris) yang akan digunakan dalam mengukur.
2.)    Siapkan alat tulis menulis.
3.)    Ukur tinggi tanaman dimulai dari batang bawah sampai daun yang paling panjang.
4.)    Ukur jumlah anakan dan jumlah daun dari tanaman. Lakukan pengukuran ini selama 5 minggu.